Senin 27 Apr 2020 04:47 WIB

Kesulitan Difabel Prancis Berpekan-pekan dalam Karantina

Kehidupan sehari-hari pada masa pandemi menjadi cobaan berat bagi difabel di Prancis.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Andri Saubani
Suasana kawasan Menara Eifel di Prancis saat
Foto: google.com
Suasana kawasan Menara Eifel di Prancis saat

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Berpekan-pekan dalam karantina ketat di Prancis, Mohammed berusia 14 tahun dengan autisme mengambil kapak dan mulai merusak dinding rumah keluarganya. Dia telah mencapai batas berada di rumah.

Gangguan dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh pandemi adalah cobaan berat bagi anak-anak difabel. Tekanan pun dirasakan keluarga dan perawat anak difabel yang terkurung di rumah sementara sekolah berkebutuhan khusus dan program pendukung tetap ditutup.

Baca Juga

Langkah-langkah karantina wilayah yang diterapkan Prancis sekarang memasuki bulan kedua dan akan berjalan setidaknya hingga 11 Mei. Keputusan tersebut menjadi upaya paling ketat di Eropa.

Mohammed tidak mengambil kapak lagi sejak insiden bulan lalu, ayahnya bernama Salah merasa lebih lega. Meski berhanti melakukan kegiatan tersebut, anak itu masih frustrasi terjebak di dalam rumah dan merasa ingin menghancurkan rumah.

Kondisi semakin buruk ketika ibu Mohammed yang bekerja di panti jompo, telah cuti sakit setelah dinyatakan positif Covid-19. Dia harus tinggal selama berminggu-minggu terisolasi di lantai atas rumah di pinggiran Paris, Mantes-la-Jolie.

Jarak fisik yang diberlakukan oleh keluarga menjadi kesulitan besar bagi Mohammed. Dia memiliki hubungan sangat dekat dengan ibunya. "Kami terus mengatakan kepadanya bahwa ada penyakitnya. Dia mencatat. Kemudian dia mencoba lagi untuk naik dan melihatnya," kata Salah.

Ledakan kekerasan, ketidakpahaman, perselisihan, serangan panik menjadi gambaran nyata untuk anak-anak difabel. Mereka secara tiba-tiba kehilangan rutinitas serta terputus dari teman dan guru.

Mohammed membutuhkan perhatian yang konstan di rumah, sehingga tidak akan melukai atau membahayakan dirinya sendiri. "Itu sulit baginya. Kami menegurnya, mengatakan tidak. ... Kita perlu mengulang dan mengulangi," kata Salah.

Salah mengakui kelelahannya sendiri. Bekerja di rumah sebagai insinyur telekomunikasi sambil merawat Mohammed dan dua saudara lelakinya, usia 12 dan 8 tahun membuat fokusnya harus terbagi.

Mohammed biasanya menghadiri Bel-Air Institute di dekat Versailles, yang menyediakan layanan pendidikan dan terapi khusus untuk puluhan anak dengan berbagai jenis difabel. Guru Mohammed, Corentin Sainte Fare Garnot, melakukan yang terbaik untuk membantu datang beberapa kali.

"Perasaan kesepian dan kurangnya aktivitas bisa sangat dalam bagi orang autis," ujar kata guru itu.

Manajer di Bel-Air Institute, Aurelie Collet mengatakan, beberapa remaja pada awalnya tidak memahami aturan lockdown yang membuat mereka terjebak di rumah. Mereka sering meminta keluar, tetapi mereka mulai mengerti harus berada  di dalam kamar dan melakukan kelas secara virtual.

Staf mengembangkan alat kreatif untuk terus berkomunikasi dan bekerja dengan anak-anak, termasuk melalui jejaring sosial. Karantina nasional membuat warga Prancis hanya dapat meninggalkan rumah untuk layanan penting, seperti membeli makanan atau pergi ke dokter, dan harus tetap berada di sekitar rumah. Aktivitas fisik di depan umum dibatasi hingga satu jam dan dalam radius terdekat.

Menyadari beban yang dikenakan peraturan pada orang dengan autisme, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pengecualian. Pelonggaran aturan ini memungkinkan mereka untuk pergi ke tempat-tempat tertentu tanpa harus mematuhi batas waktu atau jarak.

Salah telah mulai mengajak Muhamad keluar lagi untuk bersepeda, suatu kegiatan yang dinikmati putra sulungnya sebelum pandemi. "Ini seperti katup pengaman baginya. Dia membutuhkannya. ... Kami mengalami kesulitan untuk mengikutinya, dia akan maju, dengan gembira berteriak," katanya.

Sainte Fare Garnot membantu keluarga menemukan solusi konkret. Bermain sepak bola dengan saudara-saudaranya di taman telah terbukti sulit bagi Mohammed karena aturan permainan tim terlalu rumit, saran yang diberikan dengan melibatkan ketiga anak laki-laki untuk secara bergantian menendang bola ke gawang.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement