Selasa 11 Aug 2020 15:04 WIB

Menlu Wu: China Ingin Ubah Taiwan Seperti Hong Kong

China mengusulkan model otonomi satu negara, dua sistem ke Taiwan.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Seorang wartawan jatuh setelah disemprot dengan semprotan merica oleh polisi dalam sebuah protes di Causeway Bay selama pawai penyerahan tahunan di Hong Kong, Rabu, Juli. 1, 2020. Hong Kong menandai peringatan 23 tahun penyerahannya ke Cina pada tahun 1997, dan hanya satu hari setelah Cina memberlakukan undang-undang keamanan nasional yang menindak protes di wilayah tersebut.
Foto: AP / Vincent Yu
Seorang wartawan jatuh setelah disemprot dengan semprotan merica oleh polisi dalam sebuah protes di Causeway Bay selama pawai penyerahan tahunan di Hong Kong, Rabu, Juli. 1, 2020. Hong Kong menandai peringatan 23 tahun penyerahannya ke Cina pada tahun 1997, dan hanya satu hari setelah Cina memberlakukan undang-undang keamanan nasional yang menindak protes di wilayah tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengatakan, China terus memberikan tekanan pada pemerintahannya. Dia menuding Beijing hendak mengubah Taiwan seperti Hong Kong.

"Hidup kami menjadi semakin sulit karena China terus menekan Taiwan agar menerima syarat-syarat politiknya, syarat yang akan mengubah Taiwan menjadi Hong Kong berikutnya," kata Wu dalam konferensi pers bersama Menteri Kesehatan Amerika Serikat (AS) Alex Azar seperti dikutip laman Aljazirah, Selasa (11/8).

Baca Juga

China telah mengusulkan model otonomi "satu negara, dua sistem" untuk membuat Taiwan menerima aturannya. Hal itu sama seperti yang diterapkan di Hong Kong. Pemerintah dan partai-partai besar di Taiwan telah menolak usulan tersebut.

Wu mengungkapkan, Taiwan beruntung memiliki teman seperti Alex Azar di AS untuk membantu memperjuangkan ruang internasional Taiwan. "Kami tahu ini bukan hanya tentang status Taiwan, tapi tentang mempertahankan demokrasi dalam menghadapi agresi otoriter. Taiwan harus memenangkan pertempuran ini agar demokrasi menang," katanya.

Azar tiba di Taiwan pada Ahad (9/8). Ia menjadi pejabat tinggi AS yang berkunjung ke sana dalam empat dekade terakhir. Selain membicarakan kerja sama penanganan pandemi Covid-19, kehadiran Azar di sana adalah untuk menegaskan dukungan Washington terhadap demokrasi Taiwan.

Sebelumnya China telah menentang rencana kunjungan Alex Azar ke Taiwan. "China dengan tegas menentang interaksi resmi apa pun antara AS dan Taiwan. Posisi ini konsisten dan jelas. China telah membuat pernyataan tegas dengan pihak AS baik di Beijing maupun di Washington," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Wang Wenbin pada Rabu pekan lalu, dikutip laman resmi Kemlu China.

Dia menjelaskan, terkait hubungan China-AS, isu Taiwan adalah salah satu yang paling penting dengan tingkat kepekaan tertinggi. Wang menegaskan bahwa prinsip "Satu Cina" adalah landasan politik. Oleh sebab itu Cina mendesak AS berhenti melakukan interaksi resmi dengan Taiwan dalam bentuk apa pun.

AS memutuskan hubungan dengan Taiwan pada 1979. Hal itu dilakukan agar Washington tetap dapat menjalin relasi dengan China. Namun, Washington tetap menjadi pemasok senjata dan produk militer terbesar bagi Taiwan.  Dengan memburuknya hubungan bilateral, China kerap mengkritik kedekatan serta kerja sama AS dan Taiwan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement