Kamis 22 Oct 2020 14:21 WIB

Ribuan Warga Unjuk Rasa Damai di Kolombia

Ribuan anggota serikat kerja, guru, mahasiswa, dan warga protes pemerintah Kolombia

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Para pengunjuk rasa berkumpul di Bolivar Square selama protes melawan pemerintah di Bogota, Kolombia. Ilustrasi.
Foto: AP/Fernando Vergara
Para pengunjuk rasa berkumpul di Bolivar Square selama protes melawan pemerintah di Bogota, Kolombia. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOTA - Ribuan anggota serikat kerja, guru, mahasiswa, dan warga pribumi ambil bagian dalam unjuk rasa nasional di Kolombia pada Rabu (21/10). Mereka memprotes kebijakan sosial dan ekonomi Presiden Ivan Duque, pembunuhan para aktivis hak asasi manusia, dan kekerasan polisi.

Aksi turun ke jalan itu merupakan yang terbaru dalam serangkaian protes yang mulai berlangsung akhir tahun lalu, termasuk demonstrasi pada September dalam melawan keganasan polisi yang menyebabkan 13 orang meninggal. Pemerintah memperingatkan para pemrotes atas risiko yang meningkat penularan virus corona.

Baca Juga

Di Kolombia, yang dikarantina selama lebih dari lima bulan, jumlah kasus Covid-19 terkonfirmasi diperkirakan mencapai satu juta akhir pekan ini. Pemrotes menuntut beragam bantuan pemerintah, termasuk jaminan pendapatan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan saat pandemi, pendanaan lebih banyak bagi kesehatan dan pendidikan, serta langkah-langkah menghentikan kekerasan berdasar gender.

"Kami meminta tak ada lagi pembantaian terhadap para pemimpin pribumi kami," kata Harold Arias, salah satu dari ribuan warga pribumi yang datang di Bogota untuk memprotes di Bolivar Plaza.

"Kami tak takut virus corona. Kami takut kembali ke kampung kami tanpa berdialog dengan presiden," ujar pria 32 tahun ini.

Para pemimpin protes menuntut bertemu dengan Duque untuk membahas pembunuhan para aktivis, yang kematiannya oleh pemerintah dihubungkan dengan gerombolan kriminal dan pemberontak kiri. Sekitar 10 ribu warga pribumi datang ke Bogota untuk memprotes pekan ini, pada dasarnya dari Kolombia barat daya.

"Bahkan pandemi tak akan menghentikan gerakan kami," kata Hermes Pete, kepala Dewan Pribumi Regional Cauca (CRIC).

Sebagian besar pribumi pendemo mulai berangkat pulang ke kampung halaman mereka pada Rabu sore. Wali Kota Bogota Claudia Lopez mengaitkan suasana damai hari itu pada kehadiran para warga pribumi, yang menggunakan istilah minga untuk merujuk pada aksi bersama.

"Kita bersyukur atas aksi bersama itu karena contoh hebat yang diberikannya pada kota ini dan pada organisasi sosial yang mengikutinya," kata Lopez di Twitter.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement