Jumat 06 Nov 2020 12:31 WIB

WHO tidak Sertakan Remdesivir dalam Skema Obat Covid-19

Remdesivir telah diizinkan di banyak negara untuk mengobati Covid-19.

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda
Remdesivir, salah satu obat antivirus yang digunakan untuk merawat pasien Covid-19.
Foto: EPA-EFE/SASCHA STEINBACH
Remdesivir, salah satu obat antivirus yang digunakan untuk merawat pasien Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dilaporkan telah menyusun skema obat-obatan untuk mengatasi infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) ke negara-negara miskin. Antibodi monoklonal eksperimental dan steroid termasuk di dalam daftar.

Sebuah dokumen internal menunjukkan WHO tampaknya menghindari terapi obat remdesivir dari Gilead. Prioritas badan tersebut dalam menangani Covid-19 saat ini adalah untuk mengamankan antibodi monoklonal di pasar yang ketat dan untuk meningkatkan distribusi steroid murah deksametason, yang telah membukukan hampir tiga juta rangkaian pengobatan untuk negara-negara miskin.

Baca Juga

Antibodi monoklonal merupakan salinan antibodi yang dibuat oleh tubuh untuk melawan infeksi. Di antara pembuat obat termasuk Roche dan Novartis yang mengonfirmasi kontak awal dengan skema WHO.

Remdesivir tidak disebut di antara obat prioritas. Gilead Sciences mengatakan, skema WHO belum mendanai uji coba Covid-19 dan tidak pernah mendekati perusahaan untuk kemungkinan memasukkan remdesivir dalam portofolionya. Skema pasokan obat adalah salah satu dari empat pilar yang disebut ACT Accelerator, sebuah proyek yang dipimpin WHO.

Proyek ini juga bertujuan mengamankan vaksin Covid-19, termasuk alat diagnostik dan pelindung diri bagi negara-negara miskin. ACT Accelerator mengumpulkan lebih dari 38 miliar dolar AS pada awal 2022.

"Prioritas segera untuk pilar (terapeutik) adalah mengintensifkan upaya pada antibodi monoklonal sambil meningkatkan penggunaan deksametason,” tulis dokumen WHO tersebut.

Skema yang dipimpin bersama oleh badan amal Wellcome Trust dan Unitaid sebagai kemitraan kesehatan yang diselenggarakan oleh WHO, membutuhkan setidaknya 6,1 miliar dolar AS, di mana 750 juta dolar AS di antaranya pada Februari, dari total permintaan 7,2 miliar dolar AS. Lebih dari setengah uang tunai akan digunakan untuk mendapatkan dan mendistribusikan antibodi monoklonal.

Sejauh ini, belum ada antibodi monoklonal yang disetujui untuk melawan Covid-19, tetapi skema WHO telah berinvestasi dalam penelitian dan mengamankan kapasitas produksi di pabrik Fujifilm Diosynth Biotechnologies di Denmark. Meski demikian, perusahaan ini belum memberikan komentar.

Seorang juru bicara Unitaid mengonfirmasi bahwa pihaknya ingin mengumpulkan dan menginvestasikan 320 juta dolar AS untuk mengamankan antibodi monoklonal. Namun, kesepakatan komersial dirahasiakan.

Sementara, 110 juta dolar AS lainnya akan digunakan untuk persetujuan peraturan dan prosedur persiapan pasar lainnya untuk antibodi monoklonal di negara-negara miskin dan 220 juta dolar AS untuk mendanai uji klinis. Di antara perusahaan yang mengembangkan antibodi monoklonal eksperimental melawan Covid-19 adalah dua perusahaan asal Amerika Serikat (AS), yakni Eli Lilly dan Regeneron.

Presiden AS Donald Trump mendapatkan antibodi dari perusahaan tersebut pada Oktober setelah dinyatakan positif Covid-19. Eli Lilly dilaporkan setuju memproduksi antibodi di pabrik Fujifilm sejak April lalu dan akan membuatnya tersedia dengan harga yang terjangkau untuk negara-negara miskin.

Meski kekurangan dana, skema pasokan obat WHO bertujuan untuk mendistribusikan ratusan juta rangkaian obat Covid-19 ke negara-negara miskin pada 2022. Selain antibodi monoklonal dan deksametason, badan ini juga mengincar obat eksperimental lain, termasuk antivirus baru dan obat yang digunakan kembali.

Skema tersebut akan menghabiskan 100 juta dolar AS lagi untuk menutup kesepakatan dengan pembuat obat yang tidak ditentukan mulai pertengahan 2021 dan berencana untuk menginvestasikan 4,4 miliar dolar AS untuk obat-obatan yang berhasil dalam uji klinis.

Unitaid mengonfirmasi bahwa skema tersebut tidak membeli atau mendanai remdesivir, yang pada awalnya diujicobakan untuk melawan Ebola. Dokumen itu tidak berkomentar tentang mengapa remdesivir tidak muncul di antara pengobatan prioritas.

Remdesivir telah diizinkan di banyak negara untuk mengobati Covid-19. Namun, temuan awal dari uji coba yang disponsori WHO menyimpulkan bahwa antivirus itu cuma memiliki sedikit atau tidak ada manfaat, bertentangan dengan uji coba positif sebelumnya.

Terlepas dari itu, tidak sedikit negara yang terus membelinya. Jerman dalam pekan ini mengumumkan pembelian dosis remdesivir lebih dari 150.ribu, sementara Amerika telah lebih dulu memborong remdesivir.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement