Selasa 17 Nov 2020 09:06 WIB

Donald Trump Minta Ada Pilihan untuk Serang Iran

Penasihat Donald Trump memintanya tidak mengambil skenario serang Iran

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
Foto: CONSOLIDATED NEWS PHOTOS POOL
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan pekan lalu bahwa Presiden Donald Trump meminta diberi pilihan untuk menyerang situs nuklir utama Iran. Tetapi, ia memutuskan untuk tidak mengambil langkah dramastis.

Permintaan itu Trump sampaikan dalam pertemuan dengan penasihat-penasihat keamanannya Kamis (12/11) pekan lalu. Rapat tersebut dihadiri Wakil Presiden Mike Pence, Menteri Pertahanan Christopher Miller, dan kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley.

Baca Juga

Pemerintah mengkonfirmasi pertemuan itu pada The New York Times. Surat kabar tersebut melaporkan penasihat-penasihatnya mendorong Trump untuk tidak menggelar serangan karena dapat menimbulkan konflik yang lebih besar.

"Ia meminta pilihan tersebut, mereka memberinya beberapa skenario dan ia memutuskan untuk tidak maju," kata pejabat tersebut, Senin (17/11).

Gedung Putih menolak untuk berkomentar. Selama empat tahun pemerintahannya, Trump mengambil sikap agresif terhadap Iran. Ia menarik AS dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditanda tangani Presiden Barack Obama.

Trump juga memberlakukan lagi sejumlah sanksi ekonomi terhadap Teheran. Trump yang menolak hasil pemilihan 3 November lalu akan menyerahkan kekuasaan pada mantan wakil presiden Obama, Joe Biden pada 20 Januari mendatang.

Permintaan untuk opsi menyerang Iran ini disampaikan satu hari setelah badan pemantau nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA) melaporkan Iran sudah memindahkan aliran pertama sentrifugal canggih dari pabrik di atas permukaan tanah ke dalam tanah. Pelanggaran terbaru yang Iran lakukan terhadap perjanjian JCPOA.  

Stok uranium yang diperkaya Iran kini mencapai 2,4 ton, jauh melebihi yang disepakati JCPOA yang batasnya 202,8 kilogram. Pada kuartal ini, mereka memproduksi 337,5 kilogram. IAEA mengatakan lebih sedikit dibandingkan dua kuartal sebelumnya yang sebanyak 500 kilogram lebih.

Pada bulan Januari lalu, Trump memerintahkan serangan drone AS yang menewaskan Jenderal militer Iran Qassem Soleimani di bandara Baghdad. Tapi ia menghindari konflik militer yang lebih luas dan menarik pasukan AS dari medan-medan pertempuran di seluruh dunia.

Sesuai dengan janji kampanyenya untuk mengakhir apa yang ia sebut 'perang tak berkesudahan' Amerika. Serangan ke situs nuklir utama Iran di Natanz dapat meledakkan konflik regional dan menjadi tantangan serius bagi pemerintah Biden. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement