Kamis 19 Nov 2020 10:31 WIB

Pfizer Tawarkan Jutaan Dosis Vaksin Covid-19 ke Brasil

Pfizer menyebut tingkat efektifitas vaksin buatan mereka mencapai 90 persen.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
Pfizer merupakan satu dari banyak perusahaan farmasi yang berlomba-lomba menyediakan vaksin Covid-19 di pasar
Foto: EPA
Pfizer merupakan satu dari banyak perusahaan farmasi yang berlomba-lomba menyediakan vaksin Covid-19 di pasar

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Perusahaan farmasi Pfizer telah menawarkan jutaan dosis vaksin Covid-19 kepada Brasil. Hal itu sehubungan dengan cepatnya penyebaran virus Corona di negara tersebut.

"Pfizer mengajukan proposal kepada Pemerintah Brasil, sejalan dengan kesepakatan yang kami selesaikan di negara lain - termasuk di Amerika Latin, yang akan mengizinkan vaksinasi jutaan warga Brasil di paruh pertama, tunduk pada persetujuan regulasi," kata Pfizer dalam sebuah pernyataan pada Rabu (18/11).

Baca Juga

Pfizer baru-baru ini mengumumkan hasil uji klinis tahap akhir dari vaksin Covid-19 yang dikembangkannya. Perusahaan itu mengklaim bahwa vaksin mereka memiliki tingkat keefektifan 90 persen.

Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan telah bertemu dengan Pfizer pada Selasa (17/11). Mereka mengatakan akan membeli vaksin Pfizer jika ia terbukti aman dan regulator kesehatan Anvisa mendaftarkannya. Kementerian Kesehatan Brasil berencana melakukan pertemuan dengan Johnson & Johnson, Bharat Biotech India, dan pembuat vaksin Sputnik V asal Rusia.

Berdasarkan data yang dihimpun laman Worldmeters, sejauh ini Brasil telah melaporkan lebih dari 5,9 juta kasus Covid-19. Pandemi telah membunuh 167.497 warga di sana. Brasil menempati posisi ketiga sebagai negara dengan kasus Covid-19  tertinggi di dunia.

Pada Selasa (17/11) lalu, Imperial College London merilis data yang menunjukkan bahwa tingkat infeksi di Brasil telah meningkat menjadi 1,1. Artinya setiap 100 warga yang mengidap Covid-19 dapat menginfeksi 110 orang lainnya. Itu adalah pertama kalinya dalam beberapa pekan angkanya berada di atas satu. (Reuters/Kamran Dikarma)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement