REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Wakil Menteri Luar Negeri Iran bidang Politik Seyyed Abbas Araghchi membantah klaim yang menyebutkan ia bertemu dengan perwakilan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Oman. Presiden Iran Hassan Rouhani yakin Biden akan kembali ke kesepakatan nuklir 2015.
"Mereka yang menciptakan cerita pertemuan khayalan tidak memiliki kesadaran yang benar situasi saat ini," kata Araghci seperti dikutip kantor berita Iran, IRNA, Kamis (17/12).
Middle East Monitor melaporkan diplomat Iran itu menjelaskan kunjungannya ke Muscat Iran hanya berlangsung selama empat jam. Ia mengikuti pertemuan Komite Konsultasi Strategis Iran-Oman ke-7.
Sebelumnya dilaporkan Rouhani yakin pemerintahan AS yang baru akan bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir. Ia juga yakin pemerintah Biden akan mencabut sanksi-sanksi yang diterapkan Donald Trump.
"Saya tidak memiliki keraguan perlawanan rakyat Iran selama tiga tahun akan membujuk pemerintahan Amerika di masa depan untuk kembali ke komitmen (nuklir) dan sanksi-sanksi akan dicabut," kata Rouhani, Kamis (17/12).
Pada tahun 2018 lalu pemerintahan Presiden Donald Trump mengeluarkan AS dari kesepakatan nuklir yang dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Lalu ia memberlakukan sanksi pada sektor minyak dan finansial Iran.
Biden sudah mengungkapkan kemungkinan AS akan bergabung kembali ke perjanjian yang disepakati dengan lima kekuatan dunia lainnya itu. Sebelumnya Rouhani mengatakan negaranya senang dengan akan berakhirnya pemerintahan Trump. Tetapi tak terlalu menyambut pemerintahan Biden.