Jumat 05 Feb 2021 21:50 WIB

Kapal Perang AS Berlayar Dekat Pulau Laut China Selatan

Militer China mengecam langkah provokasi AS.

kapal induk AS
Foto: abc news
kapal induk AS

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Sebuah kapal perang AS pada Jumat berlayar di dekat Kepulauan Paracel yang dikuasai China di Laut China Selatan yang disengketakan dalam operasi kebebasan navigasi. Demkian disampaikan oleh Angkatan Laut AS.

Pelayaran itu merupakan misi pertama di bawah pemerintahan baru Presiden Joe Biden. Militer China mengutuk tindakan itu dan mengatakan telah mengirim unit angkatan laut dan udara untuk mengikuti dan memperingatkan kapal tersebut.

Baca Juga

Jalur perairan yang sibuk itu merupakan salah satu dari sejumlah isu panas dalam hubungan AS-China, yang meliputi perang dagang, sanksi AS, Hong Kong, dan Taiwan.

China geram dengan pelayaran AS yang berulang kali di dekat pulau-pulau yang diduduki dan dikendalikan Beijing di Laut China Selatan. China mengatakan memiliki kedaulatan yang tak terbantahkan dan menuduh Washington sengaja memicu ketegangan.

Armada ke-7 Angkatan Laut AS mengatakan kapal perusak USS John S. McCain "menegaskan hak navigasi dan kebebasan di sekitar Kepulauan Paracel, sesuai dengan hukum internasional".

Komando Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China mengatakan kapal itu telah memasuki apa yang disebutnya perairan teritorial Paracel tanpa izin, "secara serius melanggar kedaulatan dan keamanan China".

"Amerika Serikat "dengan sengaja mengganggu suasana damai, persahabatan, dan kerja sama Laut China Selatan", ujar otoritas China.

Beijing mengambil kendali penuh atas Paracel pada 1974 setelah pertempuran singkat dengan pasukan Vietnam Selatan. Vietnam, serta Taiwan, terus mengklaim pulau-pulau itu. Malaysia, Brunei, dan Filipina memiliki klaim pada bagian-bagianlain Laut China Selatan. Di wilayah itu, China telah membangun pulau buatan dan membangun pangkalan udara di beberapa pulau.

Angkatan Laut AS menyatakan bahwa kapal induk AS itu memasuki Laut China Selatan sebagai operasi rutin.

sumber : Reuters/antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement