Rabu 17 Feb 2021 21:29 WIB

Psikiater: Penyintas Covid-19 Bisa Alami Distorsi Psikologis

Berdasarkan penelitian, 64,8 persen dari 4.010 orang mengalami masalah psikologis.

Penyintas Covid-19 bisa mengalami distorsi atau gangguan psikologis akibat kejadian infeksi Covid-19 yang pernah dialami. (ilustrasi).
Foto: Prasetia Fauzani/ANTARA
Penyintas Covid-19 bisa mengalami distorsi atau gangguan psikologis akibat kejadian infeksi Covid-19 yang pernah dialami. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikiater dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ mengatakan penyintas Covid-19 bisa mengalami distorsi atau gangguan psikologis akibat kejadian infeksi Covid-19 yang pernah dialami. Fakta tersebut dapat dibuktikan dari beberapa penelitian baik di dalam maupun luar negeri.

Salah satunya yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia yang melakukan swaperiksa secara random, baik terhadap orang-orang yang telah terinfeksi maupun yang belum terinfeksi Covid-19. "Jadi, memang pada pasien Covid-19 itu bisa dipastikan ada distorsi psikologis yang dialami," kata Nova  dalam konferensi pers Satgas Penanganan Covid-19 secara virtual dari Graha BNPB di Jakarta, Rabu (17/2).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap sekitar 4.010 orang tersebut menunjukkan bahwa 64,8 persen di antaranya mengalami masalah psikologis, 65 persen mengalami cemas, dan 62 persen mengalami depresi. Untuk menyorot lebih jelas gangguan psikologis yang dialami penyintas Covid-19, Nova menunjukkan penelitian lain dari asesmen secara daring yang dilakukan di China terhadap 730 pasien Covid-19 di sebuah rumah sakit.

Hasil asesmen tersebut menunjukkan bahwa prevalensi gejala-gejala stres pascatrauma yang berhubungan dengan Covid-19 mencapai 96,2 persen. "Ini berarti tinggi sekali," kata dia.

Sementara penelitian lain di Kota Daegu, Korea Selatan, yang dilakukan dengan wawancara via telepon terhadap sekitar 64 penyintas Covid-19 di sana menunjukkan bahwa 20,3 persen diantaranya mengalami gangguan stres pascatrauma atau dikenal dengan Post Traumatic Stress Sisorder (PTSD).

"Kalau PTSD ini menjadi berbeda karena ini durasinya harus minimal satu bulan. Jadi berbeda dengan reaksi stres akut, yang mana ini hanya terjadi antara tiga harian," ujar Nova.

Dari beberapa penelitian tersebut, Nova mengatakan bahwa penyintas Covid-19 memang memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk mengalami gangguan psikologi akibat peristiwa traumatis yang pernah mereka alami akibat Covid-19. Stres ini kemudian dipersepsikan sebagai apa dan bagaimana reaksi emosionalnya.

"Ternyata tadi ada yang menyalahkan diri sendiri, dan sebagainya. Sedangkan ini akan berpengaruh lagi ke bagaimana penyintas melakukan manajemen stres," ujarnya.

Menurut Nova, untuk mengatasi hal tersebut harus ada kemampuan dari penyintas untuk bisa menghadapi masalah itu. Perlu juga kemampuan untuk bisa menghadapinya. Hal itu membutuhkan dukungan semangat dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

"Jadi harus ada dukungan (psikologi) yang sebaiknya bisa diberikan sesegera mungkin," ujar Nova.

Dukungan dari keluarga dan bantuan psikologi itu diharapkan bisa memberikan resiliensi atau kemampuan bagi penyintas untuk bisa bertahan. Meskipun yang bersangkutan dihadapkan dengan stres akibat peristiwa besar dalam hidup mereka, salah satunya karena terinfeksi Covid-19.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement