Kamis 18 Feb 2021 02:15 WIB

Angka Kelahiran di Prancis Menurun Selama Pandemi Covid-19

Warga Prancis diduga menahan keinginan memiliki bayi selama pandemi

Rep: Shelbi Asrianti  / Red: Nashih Nashrullah
Warga Prancis diduga menahan keinginan memiliki bayi selama pandemi. Ilustrasi bayi
Foto: Pixabay
Warga Prancis diduga menahan keinginan memiliki bayi selama pandemi. Ilustrasi bayi

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS – Pemerintah Prancis telah menetapkan kebijakan lockdown terhadap lebih dari 64 juta warganya pada musim semi silam. Usai periode lockdown, ada prediksi terjadi peningkatan angka kelahiran.

Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Sembilan bulan setelah penetapan lockdown, Prancis malah mengalami penurunan angka kelahiran yang cukup tajam. Salah satu contohnya ada di Kota Saint-Denis di pinggiran Paris.

Baca Juga

Jumlah bayi yang lahir di Rumah Sakit Umum Saint-Denis turun sekitar 20 persen antara pertengahan Desember 2020 sampai pertengahan Januari 2021. Angkanya diperkirakan akan tetap di bawah level kelahiran 2020 hingga paruh pertama tahun ini.

Ketidakstabilan ekonomi, tekanan sosial, serta kecemasan akibat kondisi tak menentu diyakini memengaruhi keputusan keluarga untuk memiliki bayi. Bangsal persalinan di Rumah Sakit Umum Saint-Denis pun tampak kosong.  

"Biasanya di sini ramai," kata koordinator bidan di rumah sakit itu, Martine Mabiala Moussirou, seperti dikutip dari laman Independent. Namun saat itu, hanya satu dari sembilan kamar bersalin yang dipergunakan. 

Wilayah lain di Prancis menunjukkan tren yang sama. "Kami melihat penurunan di mana-mana di timur laut Prancis," ujar Direktur Akademik Departemen Kebidanan dan Ginekologi di University Hospital di Kota Nancy, Olivier Morel.

Dia menginformasikan, angka kelahiran turun antara 10 persen hingga 25 persen pada Januari 2021 di lima rumah sakit universitas besar di wilayah tersebut. Penghitungan itu dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. 

Penurunan yang tercatat jauh lebih curam daripada variasi tahun-ke-tahun di masa normal, yang biasanya hanya dalam satu digit rendah. "Sepanjang karier, saya tidak pernah melihat penurunan 10 sampai 25 persen," ungkap Morel.  

Lebih jauh ke selatan di Lyon, wilayah metropolitan terbesar kedua di Prancis, dua rumah sakit mencatat penurunan kelahiran bayi sebesar 19 persen pada Januari 2021. Kondisi tersebut dikaitkan dengan pandemi Covid-19.  

Para ahli demografi tidak terlalu terkejut dengan penurunan angka kelahiran di Prancis. Bahkan, ada perempuan yang meminta aborsi karena tidak ingin memiliki anak dengan pasangan yang ternyata bersikap begitu kejam selama lockdown.

"Secara historis, kelahiran sensitif terhadap peristiwa berkala seperti perang, krisis ekonomi, epidemi, dan kondisi iklim. Semua itu menghasilkan penurunan kelahiran, bukan peningkatan," tutur Direktur Penelitian di Institut Nasional untuk Studi Demografi Prancis, Arnaud Regnier-Loilier. 

Tidak hanya Prancis, Italia juga mengalami penurunan jumlah kelahiran. Negara pertama di Eropa yang mencatat jumlah kasus Covid-19 dalam skala masif itu mencatat angka kelahiran di kota-kota besarnya anjlok lebih dari 21 persen pada Desember.

Sebaliknya, rumah sakit di Berlin, Jerman, tidak mendapati penurunan angka kelahiran yang signifikan. Akan tetapi, negara ini memang tidak menghadapi lonjakan kasus Covid-19 seperti beberapa tetangganya.

Sumber: independent

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement