Sabtu 20 Feb 2021 11:10 WIB

Kepala Pentagon Minta Taliban Hentikan Kekerasan

Afghanistan menjadi dilema keamanan nasional besar bagi AS.

Rep: Lintar Satria/ Red: Indira Rezkisari
Menteri Pertahanan Lloyd Austin menolak untuk mengatakan kapan AS akan memenuhi tenggat waktu 1 Mei untuk menarik pasukannya bila Taliban menurunkan tingkat kekerasan.
Foto: AP/Evan Vucci
Menteri Pertahanan Lloyd Austin menolak untuk mengatakan kapan AS akan memenuhi tenggat waktu 1 Mei untuk menarik pasukannya bila Taliban menurunkan tingkat kekerasan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dalam konferensi pers pertamanya sebagai kepala Pentagon, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin mengatakan keberhasilan perdamaian dan ditariknya keterlibatan militer AS di Afghanistan tergantung pada kemampuan Taliban mengurangi serangan. Ia mengatakan saat ini 'jelas tingkat kekerasan terlalu tinggi'.

Namun ia menolak untuk mengatakan kapan AS akan memenuhi tenggat waktu 1 Mei untuk menarik pasukannya bila Taliban menurunkan tingkat kekerasan. Ia juga tidak mengungkapkan apakah AS dan sekutunya Nato mencoba melakukan negosiasi ulang dengan Taliban dan mempertahankan sejumlah pasukannya di Afghanistan.

Baca Juga

"Kami memperhatikan tenggat waktu yang membayangi, tapi kami ingin melakukannya dengan hati-hati dan sistematik, tapi kami fokus untuk memastikan kami mengambil keputusan yang tepat dan kami akan melaluinya dengan proses yang hati-hati," kata Austin, Jumat (19/2).

Afghanistan menjadi dilema keamanan nasional besar bagi Austin dan tim keamanan nasional pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Mempertahankan pasukan di Afghanistan tidak memberikan banyak keuntungan politis tapi menariknya dapat meningkatkan risiko memperkuat Taliban dan membangkitkan terorisme.

Pemerintahan mantan Presiden Donald Trump membuat perjanjian dengan Taliban untuk menarik semua pasukan AS dari Afghanistan pada 1 Mei mendatang. Sebagai gantinya Taliban bersedia melakukan perundingan damai dengan pemerintah Afghanistan, mengakhiri serangan terhadap pasukan AS dan secara terbuka mengumumkan memutus hubungan dengan Al-Qaeda dan kelompok ekstremis lainnya.

Di Pentagon, Austin mengatakan kekerasan Taliban harus 'segera dihentikan'. Ia juga menekankan negosiasi dengan pemerintah Afghanistan harus dilanjutkan.

Austin, pensiunan Jenderal Bintang Empat Angkatan Darat AS pernah bertugas mengawasi pasukan AS di Afghanistan dan seluruh Timur Tengah selama tiga tahun selama pemerintahan Barack Obama. Ia mengatakan pemerintahan Biden ingin meninjau ulang opsi selanjutnya di Afghanistan.

AS sudah menempatkan pasukannya di negara Timur Tengah itu selama lebih 20 tahun. Kini tinggal 2.500 dari 10 ribu pasukan yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu dan melatih pasukan keamanan di negara tersebut, dikutip dari AP.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement