Senin 22 Feb 2021 13:50 WIB

Rakyat Myanmar Mogok Nasional, Serukan Pembangkangan

Swalayan terbesar City Mart akan tutup bersama dengan toko lainnya.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Gelombang protes di Myanmar menolak pemerintahan militer.
Foto: Anadolu Agency
Gelombang protes di Myanmar menolak pemerintahan militer.

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Myanmar memulai pemogokan massal secara nasional pada Senin (22/2). Hal ini sebagai tindakan lebih berani untuk memprotes kudeta militer dan penangkapan tokoh-tokoh politik nasional.

Meskipun ada jam malam, blokade jalan, dan lebih  banyak penangkapan oleh polisi, para pengunjuk rasa menyerukan mogok massal dalam menghadapi ancaman militer itu.

Baca Juga

Para pengunjuk rasa merencanakan pemogokan nasional untuk menutup semua kecuali layanan penting pada hari protes terbesar sejak para jenderal merebut kekuasaan tiga minggu lalu.

Media lokal mengatakan swalayan terbesar di negara itu, City Mart akan tutup bersama dengan swalayan swasta lainnya. Sementara jutaan orang dapat melakukan apa yang disebut revolusi "Lima Dua".

Militer melakukan lebih banyak penangkapan pada Ahad (21/2) malam. Aktor populer Lu Min dibawa militer dari rumahnya setelah mengunggah video yang mengutuk kudeta tersebut. Istrinya menyiarkan langsung kejadian tersebut di media sosial.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement