Selasa 27 Apr 2021 13:59 WIB

Pemberontak Karen Rebut Pangkalan Militer Myanmar

KNU sempat terlibat kontak senjata dengan tentara Myanmar.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
Ilustrasi: Tentara Myanmar.
Foto: Anadolu Agency
Ilustrasi: Tentara Myanmar.

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON – Kelompok pemberontak etnis terkemuka di Myanmar, yakni Karen National Union (KNU), menyerang dan merebut sebuah pangkalan militer dekat perbatasan negara tersebut dengan Thailand pada Selasa (27/4). Sebelumnya KNU sempat terlibat kontak senjata dengan tentara Myanmar.

"Pasukan kami merebut kamp militer Burma (Myanmar)," kata kepala urusan luar negeri KNU Padoh Saw Taw Nee, dikutip laman France24. Dia menyebut pertempuran dengan tentara Myanmar berlangsung sekitar pukul 05.00 pagi waktu setempat.

Baca Juga

Hkara, seorang penduduk lama Mae Sam Laep di perbatasan Thailand, mengaku mendengar adanya kontak senjata. “Kami dapat mendengar dari sisi lain, kami dapat mendengar peluru,” kata lelaki yang juga beretnis Karen tersebut.

Hkara dan beberapa penduduk lainnya mengaku melihat lima atau enam tentara Myanmar lari ke sungai. “Kemudian kami melihat KNU menembaki mereka, tapi saat itu sangat gelap,” ucapnya.

Meski tak ikut terlibat, konfrontasi bersenjata antara KNU dan tentara Myanmar telah membuat warga desa di sana khawatir. Sebagian dari mereka memutuskan meninggalkan rumah karena takut akan ada aksi balasan dari militer Myanmar. "Tidak ada yang berani untuk tinggal. Mereka sudah lari pagi ini saat kontak senjata dimulai,” kata Hkara.

Dalam beberapa pekan terakhir, bentrokan meningkat di Negara Bagian Karen. Hal itu membuat lebih dari 24 ribu warga sipil, termasuk sekitar dua ribu di antaranya, menyeberangi sungai untuk mencari perlindungan singkat ke Thailand. Bulan lalu, setelah KNU menyerbu pangkalan militer, junta menanggapi dengan beberapa serangan udara di malam hari. Itu merupakan serangan udara pertama di Karen dalam lebih dari 20 tahun.

KNU telah dengan lantang mengutuk kudeta yang dilakukan militer Myanmar terhadap pemerintahan sipil negara tersebut pada awal Februari lalu. KNU mengklaim mereka melindungi setidaknya 2.000 pembangkang anti-kudeta yang melarikan diri setelah kota-kota di Myanmar dilanda kerusuhan.

Sepertiga wilayah Myanmar, sebagian besar di wilayah perbatasannya, diperkirakan dikuasai beragam kelompok pemberontak yang memiliki milisi sendiri. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement