Ahad 23 May 2021 08:10 WIB

Mengenang Mulla Sadra, Filosof Islam yang Fenomenal

Mulla Sadra menggabungan spiritualisme, rasionalitas, dan syariat dalam filsafatnya

Rep: IRNA/ Red: Elba Damhuri
Mulla Sadra, ahli filsafat Islam
Foto: IRNA
Mulla Sadra, ahli filsafat Islam

REPUBLIKA.CO.ID, SHIRAZ --- Orang-orang Iran memperingati 22 Mei sebagai hari nasional untuk memperingati Mulla Sadra, seorang filsuf, mistik dan teolog besar Persia dan Islam.

Mulla Sadra dikenal sebagai pemimpin kebangkitan budaya di abad ke-17 di Iran. Dia hidup selama dinasti Safawi dan memainkan peran kunci dalam mengembangkan budaya Islam dan Iran pada saat itu.

Mulla Sadra menciptakan theosophy transcendent yang merupakan jalan baru dalam filsafat Islam. Meskipun Mulla Sadra bukanlah pendiri illuminationism, ia dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dari aliran filsafat illuminationist, alias Ishragh.

Ali Mohammad Sajedi, seorang profesor di Universitas Shiraz, mengatakan kepada IRNA bahwa Mulla Sadra menggabungkan prinsip-prinsip Islam dan mistisisme teoretis dan filsafat iluminasi untuk menciptakan sistem filosofis baru yang disebut teosofi transenden.

Mulla Sadra memiliki peran yang sama dengan filsuf besar seperti Immanuel Kant dan Rene Descartes dalam filsafat Barat. Sajedi menambahkan filsuf Iran ini menciptakan hubungan antara orisinalitas keberadaan dan mistisisme. Juga, ia mengangkat masalah koneksi antara manusia dan seluruh dunia dan Tuhan.

Menurut profesor itu, karya-karya besar filosofis Iran ini dapat dibagi menjadi empat arena, termasuk filsafat, logika, hadits dan tafsir Alquran.

Mulla Sadra membentuk satu pandangan dunia dalam filsafat yang dikembangkannya yang didasarkan pada tiga cara mengetahui kehidupan.

Dari sana lahirlah teosofi transendental atau al-hikmah al-muta'liyah. Ini memang bukan istilah baru karena sebelum Sadra sudah digunakan. Namun, Mulla Sadra konsisten menggunakan istilah ini dan menuangkannya dalam buku.

Ada tiga prinsip dalam teosofi transendental ini, yakni intuisi intelektual, rasionalitas, dan syariat. Mulla Sadra menganggap semua unsur ini penting dan tidak bisa diabaikan satu sama lain.

Filsafat Mulla Sadra ingin mencapai pemahaman kehidupan dari sudut pandang kerohanian/spiritulisme yang disampaikan secara rasional dengan tetap berpijak pada syariat.

Sadr ad-Din Mohammad Shirazi juga dikenal sebagai Mulla Sadra lahir di Shirza pada tahun 1571. Dia meninggal di Basra, Irak, pada tahun 1635, ketika dia pergi menunaikan ibadah haji. Makamnya terletak di Najaf, Irak.

BACA JUGA: Mulla Sadra dan Sejarah Lahirnya Filsafat Islam

BACA JUGA: Mulla Sadra Bicara Tentang Filsafat Jiwa

BACA JUGA: Asal Usul Istilah Mullah

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement