Selasa 08 Jun 2021 06:42 WIB

Harris Ingatkan Imigran Amerika Tengah tak Datang ke AS

Amerika Serikat akan terus menegakkan hukum dan mengamankan perbatasan.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Teguh Firmansyah
Wakil Presiden Kamala Harris.
Foto: AP/Manuel Balce Ceneta
Wakil Presiden Kamala Harris.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris memulai perjalanan diplomatik selama tiga hari ke negara Segitiga Utara Amerika Tengah, Senin (7/6). Perjalanan ini disebut sebagai upaya membendung gelombang imigran ke AS.

Seperti dilansir dari Aljazirah, selama konferensi pers bersama dengan Presiden Guatemala Alejandro Giammattei, Harris mengatakan bahwa penting untuk mencegah orang-orang dari Guatemala, El Salvador dan Honduras melakukan perjalanan ke perbatasan AS. Hal ini karena tiga negara tersebut merupakan mayoritas imigran berasal.

Baca Juga

 “Amerika Serikat akan terus menegakkan hukum kami dan mengamankan perbatasan kami. Jika Anda datang ke perbatasan kami, Anda akan ditolak,"kata Harris.

 "Jangan datang, jangan datang," tambahnya.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden, yang mulai menjabat pada Januari, berada di bawah tekanan untuk membendung lonjakan kedatangan imigran dari Amerika Tengah yang melarikan diri dari kemiskinan dan korupsi. Harris juga mengumumkan langkah-langkah baru untuk memerangi perdagangan manusia, penyelundupan dan korupsi di Guatemala.

 “Presiden dan saya setuju untuk melanjutkan pekerjaan kami untuk mengelola migrasi di perbatasan Utara dan Selatan Guatemala. Kami juga membahas obat-obatan terlarang yang diselundupkan dan manusia yang diperdagangkan melintasi perbatasan ini merusak keamanan Guatemala dan rakyat Amerika Serikat,"terangnya.

Dia mengatakan AS akan membantu menciptakan satuan tugas penyelundupan dan perdagangan manusia serta satuan tugas anti-korupsi, yang bertugas mendukung dan melatih jaksa lokal dalam  menciptakan peradilan independen yang akan membasmi jaringan korupsi.

Organisasi non-pemerintah menempatkan korupsi Guatemala yang meluas di bagian atas daftar keprihatinan mereka sebelum kunjungan Harris.  Bulan lalu, dua pengacara yang secara blak-blakan mengkritik pemerintahan Giammattei ditangkap atas apa yang mereka katakan sebagai tuduhan yang dibuat-buat dan bertujuan untuk membungkam mereka.

Ketika ditanya oleh seorang wartawan pada Senin apakah Giammattei akan menjadi mitra terpercaya bagi AS untuk memerangi korupsi, Presiden membantah tuduhan bahwa pemerintahnya terlibat.

 “Berapa banyak kasus korupsi yang dituduhkan kepada saya?  Saya bisa memberi Anda jawabannya: Nol,” kata Giammattei.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement