Jumat 23 Jul 2021 12:30 WIB

Selandia Baru Kembali Setop Travel Bubble dengan Australia

Travel bubble Selandia Baru dan Australia dihentikan lagi selama delapan pekan

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih
Kota Queenstown di Selandia Baru. Travel bubble Selandia Baru dan Australia dihentikan lagi selama delapan pekan. Ilustrasi.
Foto: 123rf.com
Kota Queenstown di Selandia Baru. Travel bubble Selandia Baru dan Australia dihentikan lagi selama delapan pekan. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON - Selandia Baru kembali akan menghentikan sementara pengaturan perjalanan bebas karantina dengan Australia setidaknya selama delapan pekan mulai Jumat (23/7) malam waktu setempat. Hal tersebut diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern karena Australia memerangi wabah varian virus Delta yang sangat menular.

"Kami selalu mengatakan bahwa respons kami akan berkembang seiring dengan perkembangan virus. Ini bukan keputusan yang kami ambil dengan mudah, tetapi ini adalah keputusan yang tepat untuk menjaga keamanan warga Selandia Baru," kata Ardern kepada wartawan di Auckland.

Baca Juga

Travel bubble telah ditunda untuk pelancong ke dan dari New South Wales, Victoria, dan Australia Selatan. Travel bubble merupakan pengaturan bebas karantina yang langka di Asia.

Seperti diketahui, banyak negara telah menutup sebagian besar perbatasan mereka selama pandemi. Rencana travel bubble Singapura-Hong Kong telah tertunda beberapa kali.

Permintaan untuk penerbangan antara Australia dan Selandia Baru lebih rendah dari yang diperkirakan sejak travel bubble dibuka pada 19 April. Menurut data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium, kapasitas maskapai terjadwal antara Australia dan Selandia Baru bulan ini adalah sekitar 44 persen dari level 2019, jauh di bawah perkiraan awal lebih dari 70 persen.

Air New Zealand dan Qantas Airways telah menjadi satu-satunya operator di rute tersebut dan beberapa jeda dalam travel bubble karena wabah kecil merusak kepercayaan konsumen. Travel bubble telah diluncurkan dengan bebas tes serta bebas karantina. Namun Selandia Baru bulan ini memperkenalkan persyaratan pengujian yang membuatnya lebih mahal bagi orang Australia untuk berkunjung.

Air New Zealand mengatakan penangguhan travel bubble ini diharapkan memiliki dampak operasional dan keuangan jangka pendek pada bisnisnya. Namun pihaknya tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Sementara Qantas mengatakan mulai 31 Juli sebagian besar layanan Australia-Selandia Baru akan dibatalkan. Maskapai akan mempertahankan sejumlah kecil penerbangan untuk perjalanan dan pengangkutan penting.

Pemerintah Selandia Baru menerangkan untuk pekan depan akan ada penerbangan kembali yang dikelola untuk warga Selandia Baru dari semua negara bagian dan teritori Australia yang akan memerlukan bukti tes pra-keberangkatan negatif. Penumpang yang tiba dari Sydney akan diminta untuk menghabiskan dua pekan di karantina yang dikelola pemerintah.

"Pesan kuat saya kepada setiap warga Selandia Baru yang berada di Australia saat ini, yang tidak berniat tinggal di sana dalam jangka panjang adalah: pulanglah," ujar Ardern dikutip The Guardian.

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement