Jumat 23 Jul 2021 15:16 WIB

Ridwan Kamil : Vaksin ke Jabar akan Datang Lagi Agustus

Sisa 26 persen sisa vaksin dosis kedua akan diberikan ke warga yang belum divaksin

Rep: arie lukihardianti/ Red: Hiru Muhammad
Dua anak berusia 12-17 tahun mengantre untuk vaksinasi massal COVID-19 di Kampus Itenas, Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021). Sedikitnya 12 ribu anak usia rentang 12-17 tahun menerima suntikkan dosis pertama vaksin COVID-19 dari kegiatan vaksinasi massal yang digelar oleh Kodam III Siliwangi dan Kampus Itenas selama lima hari dengan target 30 ribu peserta guna percepatan terbentuknya kekebalan kelompok di Indonesia.
Foto: ANTARANovrian Arbi
Dua anak berusia 12-17 tahun mengantre untuk vaksinasi massal COVID-19 di Kampus Itenas, Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021). Sedikitnya 12 ribu anak usia rentang 12-17 tahun menerima suntikkan dosis pertama vaksin COVID-19 dari kegiatan vaksinasi massal yang digelar oleh Kodam III Siliwangi dan Kampus Itenas selama lima hari dengan target 30 ribu peserta guna percepatan terbentuknya kekebalan kelompok di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Total sasaran vaksinasi Covid-19 di Jawa Barat untuk mencapai herd immunity sebanyak 37 juta jiwa. Namun saat ini, realisasi yang sudah mendapat suntikan dosis pertama baru 13 persen atau 5,1 juta jiwa. Sedangkan untuk dosis kedua masih 6,10 persen atau 2,3 juta jiwa.

 “Bupati/walikota minta ya minggu-minggu ini tapi tidak ada, jatahnya habis. Tapi menunggu dari pemerintah pusat. Jadi dari sembilan juta vaksin yang dijatahkan pemerintah, Jabar 74 persen sudah selesai kemudian banyak yang minta vaksin lagi tapi masih kosong, baru mau datang lagi bulan Agustus,” ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil, saat konferensi pers virtual, Kamis malam (23/7).

Emil mengatakan, saat ini 26 persen sisa vaksin untuk dosis kedua yang tersedia akan dihabiskan bagi warga yang belum mendapat suntikan dosis pertama. Tujuannya, agar ada perluasan cakupan warga yang tervaksin.

“Saya perintahkan ke sekolah-sekolah dan vaksin keliling. Memang kalau bicara juta-juta, Jabar sudah lebih tinggi daripada provinsi lain tapi kalau pakai persentase karena kita 50 juta memang perlu kerja keras, karena jatah dari pusat segitu kita mampu habiskan sekian,” paparnya.

Di sisi lain, Emil menyampaikan ada korelasi antara vaksinasi dengan tingkat kematian. Kesimpulannya, daerah yang realisasi vaksinasi Covid-19 rendah maka tingkat kematiannya tinggi.

Emil mencontohkan, daerah yang masuk ke dalam kategori realsiasi vaksinasi tinggi adalah Kota Bandung. Meski kasus aktifnya tinggi namun tingkat kematiannya rendah.“Kesimpulannya ada daerah-daerah yang vaksinnya rendah tingkat persentase kematiannya tinggi. Jadi kota kabupaten di boks merah (seperti Karawang, Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Indramayu, Kota Tasik) tingkat kematian tinggi dan vaksinasi rendah,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi Jawa Barat, dr. Lucya Agung Susilawati, MARS mengatakan, pihaknya sedang menginventarisir sisa stok vaksin. Stok yang hendak digunakan untuk penyuntikan dosis kedua tersebut segera dihabiskan mengikuti instruksi presiden.

Inventarisasi ini, kata dia, termasuk yang berada di institusi lain, seperti TNI dan Polri di Jawa Barat, termasuk organisasi yang ikut membuka layanan vaksinasi. Pemberian dosis kedua akan menggunakan distribusi vaksin pada Agustus mendatang, sekaligus menjangkau yang belum divaksin sama sekali.

“kan sasarannya bertambah, dari 33 juta jiwa tambah 4 jutaan dengan anak dan remaja (yang masih rendah cakupannya karena baru berjalan satu minggu) dan belum semua kabupaten kota melaksanakan. Karena itu tadi, vaksinnya belum siap,” katanya.

“Sekarang sasarannya siapa saja silakan, toh sama vaksin yang digunakan, dosisnya juga sama 0,5 ml. Usia lansia usia 12 -17 silakan, usia dewasa silakan. Mudah –mudahan dalam waktu satu minggu bisa meningkatkan cakupannya dan mengevaluasi stok vaksin dengan yang seminggu yang akan datang. Kata kemenkes juga bilangnya mulai Agustus distribusinya banyak,” katanya.

Selama ini, kata dia, alokasi vaksin dari Kementerian Kesehatan ditujukan untuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang disalurkan kembali ke pemerintah kota kabupaten, lalu TNI dan Polri. Jika laju vaksinasi stabil seperti saat ini, maka herd immunity bisa tercapai di akhir tahun 2022. 

“Jangka waktunya bisa dipercepat pada akhir tahun 2021 jika ada akselerasi dengan menambah sentra-sentra vaksin serta vaksin tersedia di bulan Agustus. Dan ini bergantung juga pada komitmen dinkes kota kabupaten juga,” katanya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement