Sabtu 24 Jul 2021 11:40 WIB

Media Korut Sebut Produksi Pangan Tentukan Nasib Negara

Rodong Sinmun menyebut pertanian yang sukses adalah masalah penentu hidup atau mati

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Sebuah foto yang dirilis pada 07 September 2020 oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) resmi menunjukkan Kim Jong Un (2-L), ketua Partai Pekerja Korea (WPK) dan komandan tertinggi angkatan bersenjata DPRK, mengadakan dan membimbing pertemuan Dewan Kebijakan Eksekutif Komite Pusat WPK untuk mengorganisir kampanye pemulihan dari bencana alam di daerah di provinsi Hamgyong Selatan dan Utara yang dilanda topan, di Korea Utara
Foto: EPA-EFE/KCNA
Sebuah foto yang dirilis pada 07 September 2020 oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) resmi menunjukkan Kim Jong Un (2-L), ketua Partai Pekerja Korea (WPK) dan komandan tertinggi angkatan bersenjata DPRK, mengadakan dan membimbing pertemuan Dewan Kebijakan Eksekutif Komite Pusat WPK untuk mengorganisir kampanye pemulihan dari bencana alam di daerah di provinsi Hamgyong Selatan dan Utara yang dilanda topan, di Korea Utara

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Editorial surat kabar resmi Korea Utara Rodong Sinmun menyerukan upaya habis-habisan untuk memaksimalkan produksi biji-bijian tahun ini. Pertanian yang sukses adalah masalah penentu hidup atau mati yang dapat menentukan nasib negara itu.

"Isu prioritas utama dari kebijakan nasional tahun ini adalah pertanian yang sukses," tulis media perwakilan Partai Buruh yang berkuasa di negara itu pada Jumat (23/7).

Baca Juga

Editorial itu menyatakan semua warga negara yang tinggal di Korea Utara harus memberikan segala dukungan yang mungkin mengenai pertanian. Sebab masalah tersebut dinilai sebagai masalah hidup atau mati yang menentukan nasib diri sendiri, anak-anak, dan negara.

Pertanian telah dilakukan seperti yang direncanakan sejauh ini. Namun topan dan banjir yang menghancurkan daerah penghasil beras utama negara itu musim panas lalu dapat melanda Korut tahun ini juga.

"Penjaga tidak dapat diturunkan setiap saat sehubungan dengan pertanian. Mengingat pelajaran dari tahun lalu dan mengingat pentingnya pertanian tahun ini, dukungan untuk sektor pertanian harus diberikan tanpa henti sampai pekerjaan selesai," ungkap editorial tersebut.

Korea Utara dikenal dengan kekurangan pangan kronis. Kondisi ini diperparah oleh topan musim panas lalu dan banjir yang menimbulkan malapetaka di daerah pertanian utama. Pada Juni, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengakui negaranya sedang menghadapi kekurangan pangan yang tegang.

Dalam laporan yang baru-baru ini diserahkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Korea Utara mengatakan produksinya turun ke level terendah dalam 10 tahun pada 2018. Kondisi ini terjadi karena bencana alam, kurangnya bahan pertanian, dan rendahnya tingkat mekanisasi. Pyongyang juga mengaku gagal mencapai target nasional memproduksi tujuh juta ton pangan.

Para ahli mengatakan Korea Utara perlu memproduksi sekitar 5,5 juta ton makanan setiap tahun untuk memberi makan penduduknya. Sebuah lembaga think tank di Seoul sebelumnya mengatakan Korea Utara bisa menghadapi kekurangan pangan sekitar 1,3 juta ton tahun ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement