Sabtu 14 Aug 2021 14:45 WIB

13 Agustus 60 Tahun Lalu, Tembok Berlin Mulai Dibangun

Setelah Jerman kalah perang, Berlin menjadi daerah yang dikelola sekutu.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Tembok Berlin Jerman
Tembok Berlin Jerman

Tiba-tiba saja, pada dini hari 13 Agustus1961, perbatasan antara zona Uni Soviet di Berlin dan zona-zona lain yang dikuasai AS, Inggris dan Prancis dijaga oleh tentara Jerman Timur. "Gerbang Brandenburg Ditutup" - itulah berita utama yang dilaporkan kantor-kantor berita. Kawat berduri dibengtangkan sepanjang perbatasan antara Berlin Barat dan Berlin Timur, dan pembangunan tembok pemisah dimulai. Semua akses antara Timur dan Barat terputus.

Setelah Perang Dunia II, Jerman memang terpecah antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Tapi kota Berlin yang berada di tengah kawasan Jerman Timur masih menjadi kawasan netral, yang terpecah antara 4 zona yang masing-masing dikuasai negara sekutu pemenag perang.

Namun ketegangan antara aliansi Barat dan Uni Soviet terus memuncak. Banyak warga dari Berlin Timur ketika itu menyeberang ke Berlin Barat, untuk selanjutnya hidup di Jerman Barat. Pemerintah Jerman Timur khawatir warganya bisa berbondong-bondong pindah ke Jerman Barat. Sejak perpecahan Jerman Barat dan Jerman Timur, memang ada sekitar 2,6 juta orang yang bergegas pindah dari Timur ke Barat.

Penguasa Jerman Timur akhirnya memutuskan pembangunan Tembok Berlin mulai 13 Agustus 1961, sekalipun sebelumnya berulangkali membantah rencana seperti itu. Nantinya, tembok pembatas dengan ketinggian 3,5 meter itu diperkuat dengan beton dan baja dan mengelilingi seluruh kawasan Berlin Barat.

Tembok Berlin jadi simbol Perang Dingin

Menurut propaganda Jerman Timur, Tembok Berlin tidak dirancang untuk mencegah orang-orang yang ingin keluar, melainkan untuk mencegah dan "menghentikan aktivitas para pembangkang Jerman Barat." Retorika agresif seperti itu memang tipikal saat Uni Soviet yang komunis dan Amerika Serikat yang kapitalis terjebak dalam persaingan sengit setelah mengalahkan rezim Nazi dan Hitler di Jerman.

Kedua belah pihak lalu terlibat dalam perlombaan senjata dan retorika tajam. Selama beberapa lama, ancaman perang dunia ketiga dan kemungkinan konflik nuklir menjadi sangat nyata. Perang Dingin baru benar-benar berakhir, dengan Runtuhnya Tembok Berlin tahun 1989 - 28 tahun setelah didirikan.

Selama 28 tahun berdirinya Tembok Berlin, setidaknya 140 pria, wanita dan anak-anak kehilangan nyawa di sepanjang tembok pemisah itu. Nasib mereka hari ini diperingati di Pusat Peringatan Tembok Berlin di Bernauer Strasse, di jalan itu ada bagian tembok sepanjang 200 meter yang sengaja dilestarikan. Orang-orang dari seluruh dunia datang ke lokasi ini untuk mengenang dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Pandangan generasi muda

Bagi Lena Quincke, ceritanya sangat berbeda. Ayah perempuan berusia 22 tahun itu warga Jerman, tetapi dia sendiri lahir di Kamerun dan dibesarkan di Ethiopia. Dia datang ke kota Halle tahun 2017 untuk belajar hukum. Kota Halle terletak di Jerman bagian Timur dan tahun 1979 menjadi salah satu pusat aksi damai warga Jerman Timur menentang rezim penguasa.

Lena memang belajar sejarah Tembok Berlin sejak di Afrika, karena dia bersekolah di sekoah internasional Jerman. Sejarah perpecahan Jerman adalah bagian penting dalam kurikulum sekolah. Tetapi sejak tinggal di Jerman, dia menyadari bahwa situasinya jauh lebih kompleks daripada yang dia pelajari di sekolah. "Anda melihat apa yang tersisa dari tembok itu, dan Anda mulai memahami bahwa inilah temboknya, dan tidak mudah bagi orang untuk menyeberanginya," katanya dan menambahkan: "Bagi banyak orang, kisah ini memiliki akhir yang berdarah dan berbahaya," tambahnya.

Bagi Lena, makna Tembok Berlin tidak hanya terbatas pada negara Jerman saja, melainkan menjadi simbol untuk tembok-tembok pemisah lain. Misalnya di perbatasan antara Israel dan wilayah Palestina - terutama di Yerusalem. Lena Quincke mengatakan, tidak ada yang boleh mengabaikan dampak besar yang ditimbulkannya tembok pemisah, terutama pada penduduk sipil, tidak peduli itu ada di perbatasan mana di dunia. "Saya harus mengakui bahwa bagi saya, kata 'tembok' selalu merupakan bendera merah," ujarnya. (hp/vlz)

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement