Sabtu 14 Aug 2021 21:34 WIB

Diplomat Hancurkan Dokumen Sebelum Tinggalkan Afghanistan

Kondisi Afganistan dinilai semakin tidak terkendali.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Indira Rezkisari
Kelompok Taliban berada di kantor pemerintahan setelah diambil alih di Kota Herat, Afganistan, pada 13 Agustus 2021. Taliban mengklaim sudah menguasai Kandahar dan beberapa kota lainnya.
Foto: EPA
Kelompok Taliban berada di kantor pemerintahan setelah diambil alih di Kota Herat, Afganistan, pada 13 Agustus 2021. Taliban mengklaim sudah menguasai Kandahar dan beberapa kota lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Sejumlah diplomat dan staf kedutaan besar mulai meninggalkan Kabul, karena Taliban semakin intensif melancarkan serangan. Para diplomat mengatakan, beberapa kedutaan membakar materi sensitif sebelum pergi dari Afghanistan.

Kedutaan Besar AS di Kabul memberi tahu staf bahwa tempat pembakaran sampah dan insinerator dapat untuk menghancurkan berbagai material, termasuk kertas dan perangkat elektronik. Menurut sebuah usulan yang dilihat Reuters, kertas dan perangkat elektronik dihancurkan untuk mengurangi jumlah informasi sensitif di peralatan tersebut.

Baca Juga

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa, Afghanistan semakin tidak terkendali. Dia mendesak semua pihak berupaya untuk melindungi warga sipil.

"Ini adalah saat untuk menghentikan serangan. Ini adalah saat untuk memulai negosiasi serius. Ini adalah momen untuk menghindari perang saudara yang berkepanjangan, atau isolasi Afghanistan," kata Guterres, dikutip Sabtu (14/8).

Banyak orang di ibu kota menimbun beras dan makanan lain serta obat-obatan untuk pertolongan pertama. Ledakan pertempuran telah menimbulkan kekhawatiran krisis pengungsi dan kemunduran dalam hak asasi manusia, terutama bagi perempuan. Seorang pejabat PBB mengatakan, sekitar 400 ribu warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka tahun ini. Dari jumlah tersebut, sekitar  250 ribu di antaranya mengungsi sejak Mei atau bertepatan ketika pasukan asing meninggalkan Afghanistan.

Pasukan pertama dari batalion Marinir Amerika Serikat tiba di Kabul pada akhir pekan. Mereka berada di Kabul untuk berjaga-jaga ketika AS mempercepat penerbangan evakuasi untuk beberapa diplomat dan ribuan warga Afghanistan.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan, barisan terdepan dari tiga batalyon Marinir dan Angkatan Darat yang dikirim AS ke Kabul bertugas untuk membantu orang Amerika dan rekan Afghanistan mereka keluar dengan cepat. Taliban telah mengambil empat ibu kota provinsi lagi pada Jumat (13/8). Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa Taliban dapat menduduki Kabul.

"Dari tindakan mereka, sepertinya mereka mencoba membuat Kabul diisolasi,” kata Kirby.

Pentagon juga memindahkan 4.500 hingga 5.000 tentara tambahan ke pangkalan-pangkalan di negara-negara Teluk Qatar dan Kuwait. AS mengerahkan 1.000 pasukan ke Qatar untuk mempercepat pemrosesan visa bagi penerjemah Afghanistan yang bekerja dengan pasukan AS, beserta keluarga mereka.

Sementara 3.500 hingga 4.000 tentara dari brigade tempur Divisi Lintas Udara ke-82 ditugaskan ke Kuwait. Kirby mengatakan, pasukan tempur akan menjadi pasukan cadangan yang siaga jika suatu waktu dibutuhkan.

Pengerahan pasukan AS tersebut menyoroti cepatnya langkah Taliban dalam menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan. Taliban mulai bergerak untuk melakukan serangan dan mengambilalih sejumlah wilayah, sejak pasukan AS dan NATO meninggalkan Afghanistan.

Presiden AS Joe Biden tetap bersikukuh untuk mengakhiri misi AS di Afghanistan pada 31 Agustus. Biden mengatakan, pasukan AS telah melakukan segala upaya untuk membangun pemerintah dan militer Afghanistan.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, kedutaan di Kabul akan tetap beroperasi. Keputusan AS untuk mengevakuasi sebagian besar staf kedutaan, dan mengirim ribuan tentara tambahan adalah tanda memudarnya kepercayaan pada kemampuan pemerintah Afghanistan untuk menahan gelombang serangan Taliban. Tidak menutup kemungkinan pemerintahan Biden akan mengevakuasi staf kedutaan di Kabul secara penuh, dilansir dari Reuters.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement