Ahad 22 Aug 2021 10:55 WIB

AS Khawatir dengan Ancaman ISIS di Afghanistan

Warga AS diminta tak ke Bandara Kabul tanpa ada instruksi.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Teguh Firmansyah
 Dalam gambar yang disediakan oleh Marinir AS ini, seorang Marinir yang ditugaskan ke Satuan Tugas-Tanggapan-Pusat Tanggap Krisis Angkatan Udara Tujuan Khusus membantu para pengungsi selama evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Jumat, 20 Agustus 2021.
Foto: Sgt. Isaiah Campbell/U.S. Marine Corps via AP
Dalam gambar yang disediakan oleh Marinir AS ini, seorang Marinir yang ditugaskan ke Satuan Tugas-Tanggapan-Pusat Tanggap Krisis Angkatan Udara Tujuan Khusus membantu para pengungsi selama evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Jumat, 20 Agustus 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Potensi ancaman kelompok Daesh atau ISIS terhadap orang Amerika Serikat (AS) di Afghanistan memaksa militer AS mengembangkan cara baru untuk membawa pengungsi ke bandara di Kabul. Kabar ini disampaikan seorang pejabat senior AS, yang disamarkan identitasnya.

Seperti dilansir dari TRT World pada Ahad (22/8), pejabat itu menambahkan masalah baru pada upaya untuk mengeluarkan orang AS dari negara itu setelah jatuh ke tangan Taliban. Pejabat itu mengatakan sekelompok kecil orang Amerika dan mungkin warga sipil lainnya akan diberi instruksi khusus tentang apa yang harus dilakukan, termasuk pergerakan ke titik-titik transit di mana mereka dapat dikumpulkan oleh militer.

Baca Juga

Perubahan terjadi ketika Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan keamanan baru pada Sabtu (21/8). Isinya memberi tahu warga AS untuk tidak melakukan perjalanan ke bandara Kabul tanpa instruksi individu dari perwakilan pemerintah AS.

Sayangnya, para pejabat menolak untuk memberikan lebih spesifik tentang ancaman ISIS. Mereka hanya menggambarkannya sebagai hal yang signifikan. Mereka mengatakan belum ada serangan yang dikonfirmasi.

Diketahui, kelompok ISIS telah lama menyatakan keinginan untuk menyerang Amerika dan kepentingan AS di luar negeri. ISIS telah aktif di Afghanistan selama beberapa tahun dimana mereka diklaim melakukan gelombang serangan mengerikan, sebagian besar terhadap minoritas Syiah.

Kelompok ISIS telah berulang kali menjadi sasaran serangan udara AS dalam beberapa tahun terakhir, serta serangan Taliban. Namun para pejabat mengatakan bagian-bagian dari kelompok itu masih aktif di Afghanistan.  AS khawatir kelompok itu akan terbentuk kembali dengan cara yang lebih besar karena negara itu berada di bawah kekuasaan Taliban.

Baca juga : Viral, Saudara Presiden Ashraf Ghani Dukung Taliban

Sementara itu, pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah mengatakan kepada maskapai penerbangan AS bahwa mereka dapat diperintahkan untuk membantu mengangkut orang-orang yang telah dievakuasi dari Afghanistan.

Seorang pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan perintah dikeluarkan untuk operator maskapai pada Jumat (20/8). Isinya memberitahu perusahaan maskapai bahwa jasa mereka dapat digunakan. Namun belum tidak ada keputusan resmi yang dibuat.

Kabar tersebut pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal. Pejabat itu mengatakan pesawat sipil tidak akan terbang ke Afghanistan, tetapi akan mengangkut pengungsi dari pangkalan udara di lokasi termasuk Timur Tengah dan Jerman.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement