Jumat 05 Nov 2021 17:03 WIB

Abdullah Hammoud, dari Pekerja Miskin ke Kursi Wali Kota

Abdullah Hammoud lahir dari keluarga imigran miskin menorehkan sejarah di Michigan

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Abdullah Hammoud yang lahir di keluarga imigran miskin telah menorehkan sejarah di Michigan dengan menjadi wali kota Arab-Muslim pertama di Dearborn.
Foto: AP/Paul Sancya
Abdullah Hammoud yang lahir di keluarga imigran miskin telah menorehkan sejarah di Michigan dengan menjadi wali kota Arab-Muslim pertama di Dearborn.

REPUBLIKA.CO.ID, DEARBORN - Nama Abdullah Hammoud tengah menjadi buah bibir di perpolitikan Amerika Serikat (AS), khususnya di Negara Bagian Michigan. Pria keturunan Arab berusia 31 tahun itu berhasil memenangkan pemilu dan akan menjadi wali kota Muslim pertama untuk Dearborn.

Keluarga Hammoud adalah imigran dari Lebanon. Kendati demikian, Hammoud lahir dan besar di Dearborn, sebuah kota dengan populasi Arab-Muslim yang besar. Kehidupan yang tak terlalu mapan mengharuskan Hammoud dan keluarganya kerap berpindah-pindah tempat tinggal.

Baca Juga

"Tumbuh dewasa, kami tinggal di 12 rumah yang berbeda pada usia 14 tahun. Ini adalah kisah pekerja miskin. Ini tidak unik hanya untuk kisah imigran. Saya pikir ini adalah kisah yang dirasakan banyak orang jika Anda memiliki keluarga pekerja miskin," kata Hammoud kepada Detroit Free Press, Kamis (4/11).

Ibu Hammoud, Ghada Hammoud, tiba di AS pada 1974 saat usianya empat tahun. Ghada dan keluarganya memutuskan datang ke Negeri Paman Sam untuk menghindari pertikaian sipil di Lebanon. Sementara ayah Hammoud menginjakkan kaki di AS pada 1980-an setelah sebagian keluarganya di Lebanon pindah ke Arab Saudi untuk bekerja di industri beton.

Setelah menetap di Dearborn, ayah Hammoud bekerja sebagai sopir truk. Dia mengantarkan gulungan baja untuk keperluan industri mobil. Ayahnya juga bekerja serabutan, seperti menjadi kasir di pom bensin.

Hammoud ingat dia pernah membantu ayahnya bekerja saat usianya masih kanak-kanak. "Saya telah melakukan semuanya bersama dia. Saya di belakang truk itu, menggulirkan gulungan baja bersama mereka," kata Hammoud.

Dalam wawancara dengan Detroit Free Press, Hammoud mengaku pernah bekerja sebagai petugas pom bensin. Dia pun sempat menjajal pekerjaan sebagai pelayan. Semua dilakoni agar kehidupan keluarganya tetap terjaga.

Meski hidup dalam kemiskinan, keluarga tetap menekankan pentingnya pendidikan kepada Hammoud dan empat saudara kandungnya. "Orang tua saya selalu menanamkan dalam diri kami bahwa pendidikan akan menjadi jalan untuk menjadi sukses. Bukan karena keserakahan atau apa pun, melainkan karena Anda tidak pernah ingin berjuang dengan tagihan. Kami melihat apa yang dialami orang tua kami," ujarnya.

Hammoud memiliki cita-cita menjadi dokter. Itu alasan ia belajar biologi dan meraih gelar sarjana sains di University of Michigan-Ann Arbor. Dia kemudian mendapat gelar master administrasi bisnis dari Ross School of Business at the University of Michigan-Ann Arbor.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement