Senin 15 Nov 2021 07:03 WIB

Putra Qaddafi Akhirnya Calonkan Diri Sebagai Presiden Libya 

Saif Al-Islam putra Muammar Qaddafi akan bersaing dengan sejumlah kandidat

Rep: Rizky Jaramaya/ Dwina Agustina  / Red: Nashih Nashrullah
Saif Al-Islam putra Muammar Qaddafi akan bersaing dengan sejumlah kandidat.
Foto:

Jaksa militer Libya bertanggung jawab kepada Kementerian Pertahanan pemerintah persatuan di Tripoli menegaskan telah menulis kepada komisi pemilihan untuk menuntut penundaan pencalonan Qaddafi.

Terlepas dukungan publik dari sebagian besar faksi Libya dan kekuatan asing untuk pemilihan pada 24 Desember, pemungutan suara tetap diragukan karena entitas saingan masih bertengkar tentang aturan dan jadwal.

Sebuah konferensi besar di Paris pada Jumat (12/11) sepakat untuk memberikan sanksi kepada siapa pun yang mengganggu atau mencegah pemungutan suara. Namun, masih belum ada kesepakatan tentang aturan untuk mengatur siapa yang boleh mencalonkan diri. 

Pemilihan Presiden Libya dianggap sebagai momen penting dalam proses perdamaian yang didukung PBB. Terutama untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar satu dekade. Konflik ini telah merusak stabilitas Mediterania sejak pemberontakan yang didukung NATO terhadap Muammar Qaddafi pada 2011. 

Saif al-Islam al-Qaddafi kemungkinan akan memainkan nostalgia ketika era sebelum pemberontakan yang didukung NATO pada 2011, yang menjatuhkan ayahnya dari tampuk kekuasaan. 

Baca juga: Tiga Perangai Buruk dan Tiga Sifat Penangkalnya  

Sejauh ini era Qaddafi masih dikenang oleh sebagian besar orang Libya sebagai salah satu otokrasi yang keras. Sementara Saif al-Islam Qaddafi dan tokoh-tokoh rezim sebelumnya telah keluar dari kekuasaan dalam waktu lama sehingga mereka mungkin menemui kendala untuk memobilisasi dukungan. 

Saif al-Islam Qaddafi tetap menjadi rahasia bagi banyak orang Libya. Dia ditangkap pada 2011 di wilayah Pegunungan Zintan. Sejak saat itu, dia menghilang dari hadapan publik. 

Qaddafi diadili secara in absentia pada 2015 oleh pengadilan Tripoli. Ketika itu, dia muncul dalam pengadilan melalui tautan video dari Zintan. Saif al-Islam Qaddafi merupakan lulusan London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris. Dia merupakan wajah Libya yang dapat diterima dan dikenal ramah di Barat.  

Ketika pemberontakan pecah pada 2011, Saif al-Islam Qaddafi  memilih untuk setia kepada keluarga dan klannya di Libya daripada persahabatannya di Barat.  “Kami berjuang di sini di Libya, kita mati di sini di Libya," ujarnya. 

Sejak ditangkap pada 2011, Saif al-Islam al-Qaddafi  menghilang dari hadapan publik. Awal tahun ini, diamelakukan wawancara kepada New York Times. Namun, dia belum tampil dan berbicara secara langsung kepada publik Libya.   

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement