Sabtu 20 Nov 2021 20:43 WIB

Armenia dan Azerbaijan Sepakat Dialog Atasi Ketegangan

Pemimpin Armenia dan Azerbaijan sepakat bertemu di Brussel

Rep: Fergi Nadira B, Puti Almas/ Red: Nashih Nashrullah
 Pemimpin Armenia dan Azerbaijan sepakat bertemu di Brussel. Ilustrasi
Foto: AP/Emrah Gurel
Pemimpin Armenia dan Azerbaijan sepakat bertemu di Brussel. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BAKU— Uni Eropa (UE) mengatakan, para pemimpin Armenia dan Azerbaijan akan bertemu di Brussel pada pertengahan Desember mendatang, Jumat (20/11). 

Upaya ini dilakukan untuk membahas ketegangan yang telah menyebabkan bentrokan perbatasan dengan beberapa tentara.  

Baca Juga

"Para pemimpin telah sepakat bertemu di Brussel untuk membahas situasi regional dan cara mengatasi ketegangan untuk Kaukasus Selatan yang makmur dan stabil, yang didukung Uni Eropa," kata juru bicara presiden Dewan Eropa yang mewakili negara-negara anggota Uni Eropa, Charles Michel. Pertemuan itu akan berlangsung di sela-sela KTT Kemitraan Timur UE di Brussels pada 15 Desember.

Pengumuman itu muncul setelah pembicaraan antara Michel dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev serta Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan pada Jumat (19/11) waktu setempat.

"Selama panggilan telepon, para pemimpin Armenia dan Azerbaijan juga sepakat untuk membangun jalur komunikasi langsung, di tingkat masing-masing Menteri Pertahanan, untuk berfungsi sebagai mekanisme pencegahan insiden," kata UE. 

UE telah mendesak kedua negara untuk melepaskan pasukan mereka dan menghormati gencatan senjata yang disepakati pada hari sebelumnya. Ini didesak setelah laporan bahwa tujuh tentara Azerbaijan tewas dalam bentrokan perbatasan. 

Pada Selasa pekan ini, Armenia dan Azerbaijan menyetujui gencatan senjata di perbatasan mereka.  

Sementara itu, gencatan senjata antara pasukan keamanan Armenia dan Azerbaijan yang ditengahi oleh Rusia telah disepakati pada Rabu (17/11) lalu, hanya satu hari setelah terjadi bentrokan mematikan antara kedua pihak.  

Bentrokan antara pasukan militer kedua negara terjadi, menyebabkan delapan tentara dilaporkan tewas pada Selasa (16/11). Ini menjadi pertempuran terburuk antara Armenia dan Azerbaijan, sejak tahun lalu terjadi di wilayah Nagorno-Karabakh yang telah lama disengketakan. 

Dalam insiden di Nagorno-Karabakh, selama enam pekan, sebanyak 6.500 orang tewas, yang berasal baik dari pasukan Armenia dan Azerbaijan. Konflik tersebut dihentikan dengan kesepakatan yang dimediasi Rusia.  

Dalam kesepakatan tersebut, Armenia menyerahkan sebagian besar wilayah yang telah dikuasainya selama beberapa dekade. Dalam pertempuran terbaru, mediasi ditengahi oleh Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu. 

Kementerian Pertahanan Armenia mengatakan satu tentara Armenia tewas, 13 ditangkap oleh pasukan Azerbaijan dan 24 prajurit hilang. Disebutkan bahwa situasi di sektor timur perbatasan relatif tenang dan perjanjian gencatan senjata ditaati mulai Rabu (17/11) pagi.  

Sementara Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menuduh Azerbaijan menargetkan negara, kedaulatan, dan kemerdekaan Armenia. Ia meminta sekutu Rusia untuk dukungan militer di bawah pakta Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif, yang mewajibkan Moskow untuk melindungi negaranya jika terjadi invasi asing.

"Mengingat bahwa ada serangan terhadap wilayah kedaulatan Armenia, kami memohon kepada Federasi Rusia untuk melindungi integritas teritorial Armenia," jelas Sekretaris Dewan Keamanan Armenia, Armen Grigoryan.    

 

Sumber: alaraby  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement