Jumat 03 Dec 2021 15:30 WIB

Pemimpin Hamas Hadiri Konferensi Yerusalem di Istanbul

Konferensi Yerusalem menggarisbawahi perubahan perjuangan Palestina.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah
Pemimpin Hamas Hadiri Konferensi Yerusalem di Istanbul. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh.
Foto:

Kedua, mendukung perlawanan Palestina sebagai pilihan strategis untuk perjuangan Palestina. Ketiga, menghentikan upaya normalisasi Israel dengan negara Arab atau Muslim.

Haniyeh menyerukan agar ada rencana lengkap untuk menggulingkan normalisasi berbentuk aliansi militer dan keamanan dengan beberapa negara Arab. “Normalisasi akan meningkatkan kelemahan pemerintah (negara-negara Arab yang memulihkan hubungan dengan Israel) ini dan tidak akan meningkatkan kekuatan musuh. Kita tidak boleh membiarkan normalisasi menyebar di tubuh umat kita,” ujarnya.

Pada 15 September 2020, Bahrain dan UEA menandatangani perjanjian normalisasi diplomatik dengan Israel. Hal itu tercapai berkat mediasi dan dukungan AS di bawah kepemimpinan mantan presiden Donald Trump. Kesepakatan normalisasi tersebut dikenal dengan nama Abraham Accords.

Selain Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, AS pun membantu Israel melakukan normalisasi diplomatik dengan Sudan serta Maroko. Washington menghapus Sudan dari daftar negara pendukung terorisme sebagai aksi timbal balik atas kesediaannya membuka hubungan resmi dengan Tel Aviv. Kemudian terkait Maroko, sebagai balasan, AS mengakui klaim negara tersebut atas wilayah Sahara Barat yang dipersengketakan.

 

Palestina mengecam kesepakatan damai yang dilakukan empat negara Muslim tersebut. Menurut Palestina, apa yang dilakukan keempat negara terkait merupakan “tikaman” bagi perjuangannya memperoleh kemerdekaan.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement