REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis menghadapi gelombang kelima pandemi Covid-19, di tengah menyebarnya varian omicron. Pihak berwenang Prancis mendesak orang untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 karena kasus infeksi kembali melonjak.
"Gelombang kelima telah terjadi di sini, dan datang dengan cepat," ujar Perdana Menteri Jean Castex, dilansir Aljazirah, Sabtu (18/12).
Castex menyamakan penyebaran varian omicron di Eropa sangat cepat seperti petir. Castex mengatakan, varian omicron menyebar cepat dan sangat mudah menular. Varian ini diperkirakan akan mendominasi kasus infeksi Covid-19 di Prancis pada awal Januari.
Pemerintah Prancis melarang konser publik dan pertunjukan kembang api pada perayaan Tahun Baru. Pemerintah juga meminta orang-orang untuk menghindari pertemuan besar, dan membatasi jumlah anggota keluarga yang berkumpul saat Natal. “Semakin sedikit Anda (berkumpul), maka semakin rendah risikonya,” kata Castex.
Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran mengatakan, sekitar 10 persen kasus baru Covid-19 di Prancis terkait dengan varian omicron. Pihak berwenang Prancis telah mempercepat vaksinasi, termasuk mendorong pemberian suntikan ketiga atau booster sebelum Natal.
Pejabat kesehatan mempersempit jeda antara suntikan kedua dan ketiga menjadi empat bulan. Sebelumnya jeda suntikan kedua dan ketiga mencapai lima bulan.
Prancis mencatat jumlah rata-rata kasua Covid-19 harian mencapai 50.704 selama seminggu terakhir. Pada Kamis (16/12), Prancis mencatat kasus harian mencapai 60.866. Sejauh ini, lebih dari 48 juta dari 67 juta penduduk Prancis telah menerima vaksinasi lengkap. Puluhan ribu warga telah mendaftar untuk mendapatkan suntikan ketiga atau booster.
Castex mengatakan, pemerintah akan mengumumkan langkah-langkah baru untuk mengatasi kalangan non-vaksinasi mulai tahun depan. Pemerintah akan mengajukan rancangan undang-undang pada awal tahun depan untuk mengubah kartu kesehatan Prancis menjadi izin vaksinasi. Dengan demikian, orang yang tidak divaksinasi tidak dapat mengakses restoran maupun transportasi umum.
Rekomendasi
-
Sabtu , 26 Sep 2026, 12:10 WIB
Ada Kebencian ke Presiden, Analis Ungkap Rekor Penolakan terhadap Trump
-
-
Sabtu , 26 Sep 2026, 11:16 WIBWar Journalism Training, Bertahan dari Sergapan Lawan di Lereng Bukit Ankara
-
Sabtu , 26 Sep 2026, 07:41 WIBTrump Terjepit 40 Hari Jelang Pemilu, Masalah Datang dari Partainya Sendiri
-
Sabtu , 26 Sep 2026, 04:24 WIBPolitikus Republik Akui Trump Justru Persulit Peluang Partainya
-
Sabtu , 26 Sep 2026, 03:40 WIBErdogan: Perang Rusia-Ukraina Berisiko Meluas ke Wilayah NATO
-