Kamis 30 Dec 2021 16:34 WIB

Dewan Keamanan PBB Kutuk Pembantaian di Myanmar

DK PBB meminta ada pihak bertanggung jawab atas pembantaian itu.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah
Dalam foto ini disediakan oleh Karenni Nationalities Defense Force (KNDF), asap dan api mengepul dari kendaraan di kotapraja Hpruso, negara bagian Kayah, Myanmar, Jumat, 24 Desember 2021. Pasukan pemerintah Myanmar menangkap penduduk desa, beberapa diyakini wanita dan anak-anak, menembak mati lebih dari 30 orang dan membakar mayat-mayat itu, kata seorang saksi mata dan laporan lainnya, Sabtu.
Foto:

Sejumlah foto pembantaian pada malam Natal di desa Mo So timur, tepat di luar kotapraja Hpruso di negara bagian Kayah tersebar di media sosial. Foto-foto itu menunjukkan 30 jasad hangus di tiga kendaraan yang terbakar.

Seorang penduduk desa mengatakan kepada The Associated Press bahwa, para korban telah melarikan diri dari pertempuran antara kelompok perlawanan bersenjata dan tentara Myanmar di dekat desa Koi Ngan, yang berada tepat di samping desa Mo So, pada Jumat (24/12).

Penduduk desa itu mengatakan, mereka dibunuh setelah ditangkap oleh pasukan saat menuju ke kamp-kamp pengungsi di bagian barat kotapraja. Saksi yang berbicara kepada AP mengatakan, jasad yang dibakar itu tidak bisa dikenali. Namun pakaian anak-anak dan wanita ditemukan bersama dengan persediaan medis dan makanan. "Mayat diikat dengan tali sebelum dibakar," kata saksi yang tidak mau disebutkan namanya.

Saksi itu tidak melihat saat mereka terbunuh. Tetapi dia yakin beberapa dari jasad yang dibakar itu adalah penduduk desa Mo So yang ditangkap oleh pasukan militer pada Jumat. Dia menyangkal bahwa, mereka yang ditangkap adalah anggota kelompok milisi yang terorganisir secara lokal.

Media independen Myanmar melaporkan bahwa, 10 penduduk desa Mo So termasuk anak-anak ditangkap oleh tentara dan. Mereka dilaporkan diikat dan ditembak di kepala oleh militer. Saksi mengatakan, penduduk desa dan kelompok milisi anti-pemerintah meninggalkan sejumlah jasad ketika pasukan militer tiba di dekat Mo So.  

“Ini adalah kejahatan keji dan insiden terburuk selama Natal.  Kami mengutuk keras pembantaian itu sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Direktur Kelompok Hak Asasi Manusia Karenni, Banyar Khun Aung.

Laporan di surat kabar harian Myanmar Alinn yang dikelola negara pada Sabtu mengatakan, pertempuran di dekat Mo So pecah pada Jumat (24/12) ketika anggota pasukan gerilya etnis, yang dikenal sebagai The Karenni National Defence Force diserang pasukan keamanan Myanmar. Serangan terjadi setelah anggota pasukan gerilya etnis menolak untuk menghentikan kendaraan mereka.

Surat kabar itu mengatakan, mereka yang terbunuh termasuk anggota baru The Karenni National Defence Force yang akan menghadiri pelatihan untuk memerangi tentara Myanmar. Sementara tujuh kendaraan yang mereka tumpangi hancur dalam kebakaran.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement