Jumat 07 Jan 2022 20:31 WIB

Banyak Tenaga Medis di London Terinfeksi Covid-19, Ratusan Tentara Masuk ke RS

Rumah sakit di seluruh London mengalami krisis karena banyak staf dikarantina

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
 Seorang pasien didorong dengan troli setelah tiba dengan ambulans di luar Rumah Sakit Royal London di daerah Whitechapel di London timur, Kamis, 6 Januari 2022. Otoritas kesehatan di seluruh Inggris menyederhanakan persyaratan pengujian COVID-19 pada Rabu, sebuah langkah yang dirancang untuk memotong waktu isolasi bagi banyak orang dan itu dapat mengurangi kekurangan staf yang memukul layanan publik di tengah lonjakan infeksi virus corona yang dipicu omicron.
Foto: AP/Matt Dunham
Seorang pasien didorong dengan troli setelah tiba dengan ambulans di luar Rumah Sakit Royal London di daerah Whitechapel di London timur, Kamis, 6 Januari 2022. Otoritas kesehatan di seluruh Inggris menyederhanakan persyaratan pengujian COVID-19 pada Rabu, sebuah langkah yang dirancang untuk memotong waktu isolasi bagi banyak orang dan itu dapat mengurangi kekurangan staf yang memukul layanan publik di tengah lonjakan infeksi virus corona yang dipicu omicron.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sekurangnya 200 personel angkatan bersenjata dikerahkan ke rumah sakit di seluruh London untuk membantu National Health Service (NHS) Inggris mengatasi kekurangan staf medis, Kamis (6/1/2022). Tenaga kerja medis di rumah sakit seluruh London mengalami krisis karena banyak stafnya terpapar virus dan harus dikarantina.

Kementerian Pertahanan Inggris berjanji mengerahkan timnya selama tiga pekan ke depan. Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan, bahwa angkatan bersenjata akan kembali bekerja bergandengan tangan dengan staf NHS untuk melindungi negara dari Covid-19. Tepat setahun yang lalu, personel militer dikirim ke London di tengah puncak penerimaan rumah sakit terkait virus corona. 

Baca Juga

"Mereka (para prajurit) telah menunjukkan nilai mereka berkali-kali selama pandemi ini, baik mengemudikan ambulans, memberikan vaksin, atau mendukung pasien di rumah sakit dan mereka harus bangga dengan kontribusi mereka pada upaya yang benar-benar nasional ini," ujar Wallace seperti dikutip laman Sputnik, Jumat (7/1/2022).

Sementara itu, Menteri Angkatan Bersenjata Inggris James Heappey menyampaikan permintaan London untuk dukungan bagi rumah sakit yang berjuang dengan tekanan musim dingin dan Omicron. Dia menekankan bahwa militer dapat membantu dengan mengirim personel untuk membantu tugas klinis dan administrasi.

Dia menjelaskan, pengerahan militer akan membantu staf perawat melahirkan di bangsal, sementara tentara dan pelaut melakukan beberapa hal lain untuk mereka. Pelaut dan petugas medis akan bekerja dengan dokter dan perawat, tapi itu bukan hal baru.

"Kami telah melakukan itu selama pandemi dengan kepercayaan di seluruh Inggris. Juga dicoba dan diuji bagi personel non-klinis untuk ke rumah sakit melakukan tugas administrasi membantu bangsal berjalan dengan baik," kata Heappey.

Kepala perawat regional untuk NHS di London, Jane Clegg merasa bersyukur atas dukungan angkatan bersenjata bersama ribuan staf NHS. Hal itu ia katakan di tengah meningkatnya tuntutan yang dibawa oleh Covid-19 terlebih adanya Omicron.

Tim harus memastikan perawatan berkualitas tinggi yang berkelanjutan untuk banyak warga London yang dirawat oleh NHS musim dingin ini. Dia berbicara ketika Royal College of Nursing (RCN) berpendapat bahwa pengerahan personel militer menunjukkan krisis kepegawaian di dalam NHS.

Direktur RCN untuk Inggris, Patricia Marquis berpendapat bahwa perdana menteri Boris Johnson dan pemerintahannya tidak lagi bisa mengabaikan kemampuan staf NHS untuk memberikan perawatan yang aman. Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah Johnson mengatakan bahwa dia berharap Inggris dapat mengatasi gelombang virus corona tanpa memberlakukan pembatasan lebih lanjut. Meskipun dia mengakui bahwa bagian NHS akan merasa kewalahan oleh varian Omicron.

Baca: Protes untuk Kunjungan Pemimpin Otoriter Kamboja ke Myanmar

Secara nasional, jumlah kasus Covid-19 yang dikonfirmasi dalam tujuh hari terakhir sebanyak 1.272.131. Angka itu telah meningkat hampir 30 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya, sementara jumlah kematian mencapai 1.094 naik lebih dari 56 persen.

Baca: Sydney Bersiap, Omicron Diprediksi di Puncak Wabah pada Akhir Januari

Baca: Efek Tsunami Covid-19 Varian Omicron Menyapu Eropa

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement