Ahad 16 Jan 2022 12:41 WIB

Ilmuwan Peringatkan Omicron Bukan Varian Terakhir Covid-19

Virus Covid-19 akan bermutasi dan berkembang lebih lanjut.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini
Ilustrasi Covid-19 varian Omicron
Foto: Pixabay
Ilustrasi Covid-19 varian Omicron

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Para ilmuwan memperingatkan omicron tidak akan menjadi versi terakhir dari virus corona yang mengkhawatirkan dunia. Setiap infeksi memberikan kesempatan bagi virus untuk bermutasi dan berkembang lebih lanjut.

"Semakin cepat omicron menyebar, semakin banyak peluang untuk mutasi, yang berpotensi menyebabkan lebih banyak varian," kata ahli epidemiologi penyakit menular di Boston University Leonardo Martinez.

Baca Juga

Ahli dari berbagai dunia tidak tahu seperti apa varian virus corona berikutnya atau bagaimana akan membentuk pandemi. Namun, mereka mengatakan tidak ada jaminan sekuel omicron akan menyebabkan penyakit yang lebih ringan atau vaksin yang ada akan bekerja melawannya.

Sejak muncul pada pertengahan November, omicron telah menyebar ke seluruh dunia. Penelitian menunjukkan varian itu setidaknya dua kali lebih menular dari delta dan setidaknya empat kali lebih menular dari versi asli virus.

Omicron lebih mungkin daripada delta untuk menginfeksi kembali individu yang sebelumnya positif Covid-19. Varian ini menyebabkan infeksi pada orang yang divaksinasi dan juga menyerang yang tidak divaksinasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan rekor 15 juta kasus Covid-19 baru untuk minggu 3-9 Januari, meningkat 55 persen dari minggu sebelumnya.

Seiring dengan menjauhkan orang yang relatif sehat dari pekerjaan dan sekolah, kemudahan penyebaran varian meningkatkan kemungkinan virus akan menginfeksi dan berlama-lama di dalam orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Kondisi itu memberinya lebih banyak waktu untuk mengembangkan mutasi yang kuat.

"Ini adalah infeksi yang lebih lama dan persisten yang tampaknya menjadi tempat berkembang biak yang paling mungkin untuk varian baru,” kata pakar penyakit menular di Johns Hopkins University Dr. Stuart Campbell Ray.

Omicron tampaknya menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada delta, perilakunya memicu harapan bahwa ini bisa menjadi awal tren yang pada akhirnya membuat virus lebih ringan seperti flu biasa. Ada kemungkinan, menurut para ahli, mengingat virus tidak menyebar dengan baik jika mereka membunuh inangnya dengan sangat cepat.

Baca:  Filipina Membeli Sistem Pertahanan Maritim dari India

Akan tetapi, virus tidak selalu menjadi kurang mematikan dari waktu ke waktu. Ray menjelaskan, varian juga mereplikasi, jika orang yang terinfeksi awalnya menunjukkan gejala ringan, menyebarkan virus dengan berinteraksi dengan orang lain, kemudian menjadi sangat sakit.

"Orang-orang bertanya-tanya apakah virus akan berevolusi menjadi ringan. Tapi tidak ada alasan khusus untuk itu. Saya tidak berpikir kita dapat yakin bahwa virus akan menjadi kurang mematikan dari waktu ke waktu," ujar Ray.

Baca: Beli NFT Lukisan Ridwan Kamil Seharga 45,9 Juta, Lanang Cikal: Sambil Belajar

Baca: Vitamin D Bantu Lindungi Tubuh dari Infeksi Pernapasan? Ini Catatan Studi

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement