Jumat 28 Jan 2022 23:50 WIB

Presiden Abbas Perpanjang Keadaan Darurat Covid-19 di Palestina

Ada 2.802 kasus Covid-19 baru telah dikonfirmasi di wilayah Palestina

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
 Seorang petugas kesehatan memberikan dosis vaksin Oxford-AstraZeneca COVID-19 kepada seorang pria Palestina selama kampanye vaksinasi, di kota Ramallah, Tepi Barat, Minggu, 6 Juni 2021.
Foto: AP/Nasser Nasser
Seorang petugas kesehatan memberikan dosis vaksin Oxford-AstraZeneca COVID-19 kepada seorang pria Palestina selama kampanye vaksinasi, di kota Ramallah, Tepi Barat, Minggu, 6 Juni 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas memperpanjang keadaan darurat di Tepi Barat yang diduduki selama 30 hari. Perpanjangan ini menyusul peningkatan jumlah infeksi Covid-19.

Dilansir Middle East Monitor, Jumat (28/1/2022), Menteri Kesehatan, Mai Al-Kaila, mengatakan, 2.802 kasus baru telah dikonfirmasi di wilayah Palestina yang diduduki pada Kamis (27/1/2022) bersama dengan dua kematian.  Dia juga melaporkan bahwa 445 orang telah pulih dari Covid-19.  

Baca Juga

Selain itu, sebanyak 59 pasien Covid-19 berada dalam perawatan intensif, termasuk 21 pasien menggunakan ventilator. Sementara itu, wilayah Gaza telah melaporkan 1.250 kasus baru dan lima kematian.

Otoritas Palestina memberlakukan penguncian selama sembilan bulan berturut-turut dalam upaya membendung penyebaran virus corona. Keadaan darurat 30 hari diumumkan pada 5 Maret 2020, dan telah diperbarui setiap bulan sejak saat itu.

Otoritas kesehatan memperingatkan bahwa, sistem perawatan kesehatan di Gaza sedang berjuang untuk menahan jumlah kasus.  Situasi ini diperburuk oleh kekurangan obat-obatan dan pasokan medis yang disebabkan oleh blokade Israel.

Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan penyebaran varian omicron di Jalur Gaza. Penyebaran varian omicron dapat berlangsung cepat di Gaza, karena kekurangan peralatan medis yang dibutuhkan.

Sejauh ini, sekitar 291 orang telah terinfeksi varian omicron di Gaza. Direktur Pengobatan dan Pencegahan Kementerian Kesehatan Palestina, Magdi Duhair, mengatakan, pasien yang tertular omicron berasal dari orang yang kembali ke Jalur Gaza setelah bepergian.  

"Artinya masih banyak kasus yang belum terungkap," kata Duhair.

Duhair mengatakan, Kementerian Kesehatan mengerahkan upaya untuk mengidentifikasi sumber infeksi dan mengendalikan penyebaran Covid-19 terutama varian omicron. Duhair mengatakan, alat laboratorium yang diperlukan untuk menguji varian omicron telah tersedia.

"Tetapi akan ada krisis jika virus menyebar tiba-tiba dan Israel tidak mengizinkan alat pengujian yang sangat dibutuhkan di Gaza," ujar Duhair.

Sebelumnya, pada Desember 2021 lalu Kementerian Kesehatan Palestina telah mengidentifikasi kasus pertama varian omicron di Jalur Gaza. Pengidap virus itu adalah warga Gaza yang terinfeksi di wilayah pesisir.

Gaza yang berpenduduk 2,2 juta orang telah mencatat 189.837 kasus infeksi Covid-19 dan 1.691 kematian. Duhair mendesak warga Gaza untuk divaksin. Sejauh ini, sekitar 40 persen dari total populasi di Gaza telah menerima vaksinasi Covid-19.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement