Selasa 01 Feb 2022 18:52 WIB

Turki Tekankan Pentingnya Dialog dengan Rusia dan Ukraina Soal Laut Hitam

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina dan Barat berpotensi menimbulkan bahaya.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Dwi Murdaningsih
 Brigade mekanis terpisah ke-92 dari tank Angkatan Bersenjata Ukraina bersiap untuk ambil bagian dalam latihan di dekat desa Klugino-Bashkirivka tidak jauh dari kota Kharkiv, Ukraina Timur, 31 Januari 2022 di tengah eskalasi di perbatasan Ukraina-Rusia (diterbitkan 01 Februari 2022).
Foto: EPA-EFE/SERGEY KOZLOV
Brigade mekanis terpisah ke-92 dari tank Angkatan Bersenjata Ukraina bersiap untuk ambil bagian dalam latihan di dekat desa Klugino-Bashkirivka tidak jauh dari kota Kharkiv, Ukraina Timur, 31 Januari 2022 di tengah eskalasi di perbatasan Ukraina-Rusia (diterbitkan 01 Februari 2022).

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA - Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar menekankan pentingnya dialog dengan Rusia dan Ukraina dalam menghadapi krisis yang tengah terjadi. Dia mengatakan, Turki akan terus mematuhi aturan yang ditetapkan oleh Konvensi Montreux tentang perjalanan kapal di selat Laut Hitam.

"Status selat (mengenai aturan lintas kapal Laut Hitam dan negara-negara non-Laut Hitam) yang ditetapkan oleh konvensi menguntungkan semua pihak. Dalam keadaan saat ini, tidak ada pertanyaan untuk meninggalkan konvensi ini," ujarnya seperti dikutip laman Anadolu Agency, Selasa (1/2).

Baca Juga

Akar menguraikan situasi di wilayah Laut Hitam. Menurutnya dialog Turki dengan Ukraina dan Rusia berlanjut sambil menjalankan tanggung jawabnya di dalam NATO sebagai bagian dari aliansi.

Dia menggarisbawahi bahwa Konvensi Montreux tahun 1936 mengatur rezim Selat Turki dan transit kapal perang angkatan laut ke Laut Hitam sangat penting untuk keamanan dan stabilitas di kawasan itu. Mengacu pada ketegangan terbaru antara Rusia dan Ukraina dan Barat, ia memperingatkan bahwa ini menimbulkan bahaya eskalasi yang tidak terkendali.

"Karena itu, kami menghimbau semua pihak terkait untuk tetap tenang dan melakukan koordinasi, kerjasama dan dialog," ujarnya.

AS dengan sekutu Eropanya telah memperingatkan bahwa Rusia sedang menyiapkan invasi ke Ukraina dan telah menempatkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasannya dengan bekas republik Soviet di samping penempatan artileri dan tank yang signifikan. Moscow menyangkal mempersiapkan serangan militer, dan mengatakan pasukannya ada di sana untuk latihan rutin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement