Jumat 25 Feb 2022 05:50 WIB

Hubungan Turki dan Israel, 2 Negara yang Kembali Mesra

Turki dan Israel kembali perkuat hubungn setelah pernah bersitegang

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah
Bendera Turki dan Israel. Turki dan Israel kembali perkuat hubungn setelah pernah bersitegang

Hubungan antara Israel dan Turki rusak setelah pembunuhan pada 2010 oleh pasukan komando Israel terhadap 10 aktivis Turki di atas kapal yang merupakan bagian dari armada bantuan yang berusaha menembus blokade Israel-Mesir di Gaza. 

Bulan lalu, panggilan telepon antara Yair Lapid dan Mevlut Cavusoglu adalah percakapan pertama yang dikonfirmasi antara menteri luar negeri kedua negara dalam 13 tahun.

Selanjutnya, penangkapan pada November 2021 atas tuduhan spionase dan pembebasan berikutnya dari pasangan turis Israel karena mengambil gambar Istana Dolmabahce Istanbul, salah satu wisata utama di kota itu, mendorong pada panggilan telepon tersebut dan membuka jalan bagi pemulihan hubungan Israel-Turki. 

Istana di tepi Bosphorus ini berfungsi sebagai markas administrasi sultan Ottoman pada abad ke-19 dan merupakan tempat kematian Kemal Mustafa Ataturk pada 1938, pendiri Turki modern. 

Pembebasan pasangan itu juga mendorong pada adanya panggilan telepon pertama antara Presiden Erdogan dan para pemimpin tinggi Israel dalam sembilan tahun.

Presiden Herzog dan Perdana Menteri Naftali Bennett menelepon presiden Turki secara terpisah untuk mengucapkan terima kasih. 

Pembebasan pasangan Israel dan komunikasi Erdogan ini memiliki berbagai tujuan. Pemimpin Turki tidak ingin insiden itu menakuti turis yang sangat dibutuhkan pada saat krisis ekonomi parah. 

Insiden itu juga memberinya kesempatan untuk melangkah menuju Israel dan meredam keuntungan geopolitik Uni Emirat Arab (UEA) dalam mempertahankan hubungan dekat dengan negara Yahudi itu. 

Dari sudut pandang Erdogan, krisis Ukraina hanya meningkatkan faedah hubungan yang lebih baik dengan Israel.

Pada 14 Februari 2022, Erdogan melakukan kunjungan ke UEA sebagai bagian dari tindakan penyeimbangan regional di mana berbagai negara Timur Tengah berusaha memastikan bahwa perbedaan mereka dan berbagai konflik regional tidak lepas kendali. 

Putra Mahkota Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed menggembar-gemborkan kunjungan itu, kunjungan pertama Erdogan dalam hampir satu dekade, sebagai awal dari "fase baru yang makmur" dari kerja sama dengan Turki. Uni Emirat Arab adalah mitra dagang utama Turki di Teluk.

Baca juga: Kisah Puji dan Agus, Suami Istri yang Bersama-sama Masuk Islam

Sementara itu, Sabah, harian utama pro-pemerintah Turki, melaporkan dalam beberapa hari terakhir bahwa intelijen Turki pada musim gugur lalu menggagalkan upaya untuk membunuh pengusaha Turki-Israel Yair Geller. 

Beberapa analis menduga bahwa waktu dari pengungkapan itu dimaksudkan untuk melawan seruan Israel pada Turki untuk menghentikan dukungannya kepada Hamas, kelompok Islam yang mengontrol Jalur Gaza. Langkah Turki ini sebagai bagian dari pemulihan hubungan dengan Israel.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement