Jumat 04 Mar 2022 11:05 WIB

Stasiun Radio Liberal Rusia Ditutup karena Tekanan Liputan Soal Ukraina

Hilangnya radio Ekho Moskvy menjadi pukulan keras bagi media independenden Rusia

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
Bendera nasional Ukraina dan Rusia diletakkan di atas meja menjelang pembicaraan damai antara delegasi Rusia dan Ukraina di sebuah wisma tamu di wilayah Gomel, Belarusia terlihat Senin, 28 Februari 2022. Hilangnya radio Ekho Moskvy menjadi pukulan keras bagi media independenden Rusia. Ilustrasi.
Foto: AP/Sergei Kholodilin/BelTA
Bendera nasional Ukraina dan Rusia diletakkan di atas meja menjelang pembicaraan damai antara delegasi Rusia dan Ukraina di sebuah wisma tamu di wilayah Gomel, Belarusia terlihat Senin, 28 Februari 2022. Hilangnya radio Ekho Moskvy menjadi pukulan keras bagi media independenden Rusia. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Stasiun radio liberal terakhir di Rusia, Ekho Moskvy, dibubarkan dewan direksinya. Editor stasiun radio itu mengatakan mereka mendapat tekanan atas liputan mengenai perang Ukraina.

Stasiun radio yang merupakan salah satu saluran berita dan kabar terdepan di Rusia itu berhenti mengudara pada Selasa (1/3/2022) lalu. Akan tetapi radio masih melakukan siaran melalui Youtube sebelum akhirnya keputusan dewan diumumkan Kamis (3/3/2022).

Baca Juga

Hilangnya Ekho Moskvy dari gelombang udara menjadi pukulan keras bagi media independen Rusia yang menghadapi semakin intensifnya tekanan pihak berwenang beberapa tahun terakhir. Saluran berita TV Rain juga mengumumkan akan menghentikan operasinya sementara. "Mayoritas dewan direksi Ekho Moskvy memutuskan untuk melikuidasi saluran radio dan situs Ekho Moskvy," kata pemimpin redaksi Alexei Venediktov dalam aplikasi kirim pesan Telegram.

Pekan lalu Venediktov mengatakan stasiun radionya tidak akan meninggalkan garis redaksi media independen yang telah menjadi ciri khas mereka dalam tiga dekade. "Kebijakan redaksi kami tidak berubah," katanya.

Keputusan dewan direksi diumumkan setelah jaksa umum memblokir situs Ekho Moskvy dan TV Rain karena liputan mereka mengenai invasi ke Ukraina. Jaksa mengatakan langkah ini dilakukan untuk mencegah situs dua media itu menggunggah informasi palsu mengenai aktivitas ekstremis, kekerasan, dan aksi pasukan Rusia dalam "operasi khusus" di Ukraina.

Rusia menolak serangan ke Ukraina pada 24 Februari lalu disebut sebagai invasi. Presiden Vladimir Putin menggunakan istilah "operasi militer khusus" sebab serangan tersebut tidak dirancang untuk menduduki wilayah Ukraina. Putin mengklaim serangan bertujuan menghancurkan kemampuan militer negara itu dan menangkap orang-orang yang dianggap nasionalis berbahaya, tuduhan yang Ukraina dan Barat sebut sebagai propaganda tanpa dasar.

"Kami perlu kekuatan untuk memahami bagaimana kami dapat bekerja dari sini," kata direktur jenderal TV Rain Natalya Sindeeva saat mengumumkan media berhenti beroperasi.

"Kami sangat berharap kami dapat kembali siaran dan melanjutkan pekerjaan kami," tambahnya.

Ekho Moskvy mengatakan tuduhan terhadap mereka tidak mendasar dan ofensif. Stasiun radio itu menegaskan akan melawannya di pengadilan.

Beberapa tahun terakhir lingkungan kerja yang dihadapi jurnalis-jurnalis Rusia semakin sulit. Banyak yang dituduh pemerintah sebagai "agen asing", status yang tercantum dalam dokumen resmi dan membuat mereka dihina masyarakat. Tekanan semakin parah sejak Putin memerintahkan serangan ke Ukraina. Sebagian besar media-media arus utama dan yang dikuasai pemerintah mempertahankan bahasa yang digunakan Kremlin dalam menggambarkan perang di Ukraina.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak untuk mengomentari langsung situasi Ekho Moskvy. Ia mengatakan keputusan yang diambil dewan direksi sudah tertutup. "Stasiun radio itu melanggar hukum, hak kantor jaksa agung untuk mengambil langkah yang tepat sudah digunakan," katanya dalam konferensi pers.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement