Sabtu 05 Mar 2022 08:46 WIB

Pengungsi Suriah di Ukraina: Mengapa Kami tidak Diterima di Eropa? 

Pengungsi Suriah dan Arab mendapat perlakuan berbeda dari pengungsi Ukraina

Rep: Dwina Agustin, Shabrina Zakaria/ Red: Nashih Nashrullah
Pengungsi Ukraina beristirahat di stasiun kereta Warszawa Wschodnia (Warsawa Timur) di Warsawa, Polandia (Ilustrasi). Pengungsi Suriah dan Arab mendapat perlakuan berbeda dari pengungsi Ukraina
Foto:

Tahun lalu, 3.800 warga Suriah mencari perlindungan di Bulgaria dan 1.850 diberikan status pengungsi atau kemanusiaan. Suriah mengatakan sebagian besar pengungsi hanya melewati Bulgaria ke negara-negara UE yang lebih kaya. 

Pemerintah Polandia telah menyambut orang-orang yang melarikan diri dari perang Ukraina. Padahal negara ini mendapat kecaman internasional tahun lalu karena menolak gelombang imigran yang menyeberang dari Belarus, sebagian besar dari Timur Tengah dan Afrika. 

Sedangkan Hongaria membangun penghalang di sepanjang perbatasan selatannya untuk mencegah terulangnya arus masuk orang dari Timur Tengah dan Asia pada 2015. 

Kali ini kedatangan pengungsi dari negara tetangga Ukraina telah memicu curahan dukungan dan tawaran transportasi, akomodasi jangka pendek, pakaian, dan makanan. 

Hungaria dan Polandia sama-sama membela diri dengan mengatakan bahwa para pengungsi dari Timur Tengah yang tiba di perbatasan telah melintasi negara-negara aman lainnya yang memiliki kewajiban untuk menyediakan tempat berteduh. Menteri Luar Negeri Hongaria Peter Szijjarto membela pendekatan yang berbeda. 

"Saya harus menolak membuat perbandingan antara mereka yang melarikan diri dari perang dan mereka yang mencoba masuk ke negara itu secara ilegal," kata Szijjarto dalam pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa. 

Pernyataan ini diperkuat dengan fakta bahwa Ukraina adalah rumah bagi komunitas etnis Hongaria yang besar.

Ikatan seperti itu telah membuat beberapa pewarta Barat berpendapat bahwa bencana kemanusiaan di Ukraina berbeda dengan krisis di Suriah, Irak, atau Afghanistan. Mereka menilai orang Eropa dapat berhubungan lebih dekat dengan para korban di Ukraina. 

Komentar mereka memicu gelombang kecaman di media sosial, menuduh Barat bias. Klip-klip laporan itu beredar luas dan dikritik habis-habisan di seluruh wilayah. 

Sumber: 3 Tanda yang Membuat Mualaf Eva Yakin Bersyahadat

Misalnya, seorang reporter televisi di jaringan AS CBS menggambarkan Kiev sebagai kota yang relatif beradab dan sama dengan Eropa, berbeda dengan zona perang lainnya. Yang lain mengatakan Ukraina berbeda karena mereka yang melarikan diri adalah kelas menengah atau menonton Netflix. 

Reporter CBS Charlie D'Agata pun akhirnya meminta maaf. Dia mengatakan telah berusaha menyampaikan skala konflik. 

Nadim Houry, direktur eksekutif Inisiatif Reformasi Arab, mengatakan bagian dari liputan media mengganggu. Tindakan itu justru mengungkapkan ketidaktahuan tentang pengungsi dari bagian lain dunia yang juga memiliki aspirasi yang sama dengan Ukraina. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement