Kamis 31 Mar 2022 14:17 WIB

Rusia: Komunitas Internasional Harus Bantu Afghanistan Atasi Krisis

Masyarakat internasional perlu menghidupkan kembali ekonomi Afghanistan.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
 Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Lavrov mengatakan, komunitas internasional harus membantu Afghanistan menghadapi dan mengatasi krisis kemanusiaan.
Foto: AP/Maxim Shemetov/Pool Reuters
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Lavrov mengatakan, komunitas internasional harus membantu Afghanistan menghadapi dan mengatasi krisis kemanusiaan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, komunitas internasional harus membantu Afghanistan menghadapi dan mengatasi krisis kemanusiaan. Lavrov menilai, hal itu sudah menjadi tugas bersama.

“Tugas utama masyarakat internasional adalah membantu Afghanistan, pertama-tama menyelesaikan masalah kemanusiaan dan kemudian menghidupkan kembali ekonomi. Pesan utama kepada masyarakat internasional adalah harus jauh lebih proaktif,” kata Lavrov setelah menghadiri konferensi untuk membahas krisis Afghanistan di Tunxi, China, Kamis (31/3/2022), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Baca Juga

Menurut Lavrov, hasil-hasil kunci dari pertemuan tersebut telah dituangkan ke dalam makalah di pernyataan akhir inisiatif Tunxi. Menurutnya, hal itu mencerminkan pandangan umum para peserta. “Fokus utama dibuat pada bantuan kepada rakyat Afghanistan yang menderita akibat kehadiran NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) selama hampir 20 tahun. Mereka meninggalkan negara itu dalam keadaan yang menyedihkan,” ucapnya.

Selain China dan Rusia, pertemuan di Tunxi memang turut dihadiri delegasi tinggi diplomat dari Pakistan, Iran, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Pertemuan pertama diplomat tinggi dari negara-negara tetangga Afghanistan digelar di Moskow pada 21 Oktober 2021. Pertemuan selanjutnya dihelat di Teheran pada 27 Oktober 2021. China menjadi tuan rumah pembicaraan putaran ketiga.

Saat ini Afghanistan dipimpin oleh pemerintahan Taliban. Kelompok tersebut merebut kekuasaan di sana pada pertengahan Agustus tahun lalu. Sejak Taliban memimpin, krisis kemanusiaan di Afghanistan kian memburuk. 

Sejumlah lembaga donor menangguhkan bantuannya ke negara tersebut. Amerika Serikat (AS) bahkan membekukan aset milik bank sentral Afghanistan senilai hampir 10 miliar dolar AS. Kombinasi sanksi dan penangguhan bantuan memberikan pukulan keras bagi Taliban dan Afghanistan.

Menurut PBB, saat ini lebih dari separuh populasi Afghanistan, yakni sekitar 24 juta warga, menghadapi kekurangan makanan parah. Sekitar 1 juta balita berpotensi meninggal akibat kelaparan akhir tahun ini. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyerukan komunitas internasional untuk mempertahankan bantuannya untuk Afghanistan. Dia pun meminta aset milik Afghanistan yang dibekukan segera dicairkan. Guterres menekankan, hal itu perlu dilakukan agar krisis kemanusiaan di negara tersebut tak semakin jauh memburuk.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement