Rabu 06 Apr 2022 22:43 WIB

Tim Transisi Presiden Terpilih Korsel Temui Penasihat Keamanan AS

Delegasi Korsel yang mewakili presiden terpilih bertemu penasihat keamanan AS

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih
Penasihat keamanan AS Jake Sullivan berbicara pada konferensi pers di Gedung Putih di Washington, Senin, 4 April 2022. Delegasi Korsel yang mewakili presiden terpilih bertemu Sullivan. Ilustrasi.
Foto: AP/Andrew Harnik
Penasihat keamanan AS Jake Sullivan berbicara pada konferensi pers di Gedung Putih di Washington, Senin, 4 April 2022. Delegasi Korsel yang mewakili presiden terpilih bertemu Sullivan. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Delegasi Korea Selatan (Korsel) yang mewakili Presiden terpilih Yoon Suk-yeol bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan pada Selasa (5/4/2022) waktu Amerika. Keduanya membahas kemungkinan penyebaran aset strategis AS ke Korsel.

Perwakilan Park Jin dari Partai Kekuatan Rakyat Yoon mengatakan kedua pihak membahas perlunya mengadakan pertemuan puncak bilateral antara Presiden AS Joe Biden dan Yoon pada tanggal yang lebih awal setelah Yoon resmi menjabat. "Kedua belah pihak juga bertukar pandangan tentang perlunya mengadakan pertemuan puncak AS-Korsel lebih awal karena kedua pemimpin mereka tetap bertekad untuk memperkuat aliansi Korsel-AS," kata Park kepada wartawan setelah bertemu dengan Sullivan di Gedung Putih, seperti dikutip laman Yonhap, Rabu (6/4/2022).

Baca Juga

Park mengatakan tim transisi presiden Yoon, atau yang disebut delegasi konsultasi kebijakan AS-Korsel, juga mengirimkan surat pribadi untuk Biden dari Yoon yang diberikan kepada penasihat keamanan nasional Gedung Putih. Anggota parlemen Korsel itu juga menyatakan surat itu menyoroti kebutuhan untuk lebih meningkatkan hubungan aliansi Korsel-AS demi mengatasi masalah nuklir Korea Utara hingga meningkatkan tingkat kerja sama antarnegara dalam berbagai masalah regional dan global termasuk perubahan iklim dan ketahanan rantai pasokan.

"Kami juga telah berkonsultasi tentang cara-cara untuk meningkatkan postur pertahanan bersama Korsel dan AS dan memperkuat pencegahan yang diperluas AS," kata Park tentang pertemuannya dengan Sullivan.

Park menambahkan diskusi mereka juga termasuk kemungkinan penyebaran aset strategis AS ke Korsel. "Menyebarkan aset strategis adalah bagian penting dari penguatan pencegahan yang diperluas seperti yang saya katakan barusan. Anda mungkin memahami Korsel dan AS membahas masalah hari ini dalam pengertian itu," terang Park.

Aset strategis umumnya mengacu pada perangkat keras militer yang tangguh seperti kapal selam bertenaga nuklir, kapal induk, dan pengebom jarak jauh yang sering digunakan sebagai unjuk kekuatan untuk mencegah provokasi atau agresi oleh musuh potensial.  Kementerian pertahanan Korsel sebelumnya mengatakan dalam sebuah laporan kepada tim transisi Presiden terpilih Yoon bahwa pihaknya berencana untuk mengadakan diskusi dengan AS mengenai penyebaran aset strategis AS ke Korsel di tengah meningkatnya ketegangan dengan Korea Utara.

AS saat ini mempertahankan sekitar 28.500 tentara di Korsel di bawah Perjanjian Pertahanan Bersama 1953 dengan Seoul. Korea Utara melakukan 12 putaran peluncuran misil tahun ini, termasuk tujuh putaran di bulan Januari saja. Pyongyang juga meluncurkan rudal balistik antarbenua pertamanya sejak November 2017 pada 24 Maret.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement