Jumat 08 Apr 2022 18:36 WIB

Jepang Usir 8 Diplomat Rusia

Pengusiran diplomat dilakukan sebagai bentuk protes Jepang atas agresi Rusia.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
Seorang polisi berjaga di Kedutaan Besar Rusia di Tokyo. Jumat, 8 April 2022. Pemerintah Jepang mengatakan akan mengusir delapan diplomat Rusia atas invasi negara mereka ke Ukraina. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Hikariko Ono mengumumkan keputusan tersebut pada Jumat, 8 April 2022.
Foto: Kyodo News via AP
Seorang polisi berjaga di Kedutaan Besar Rusia di Tokyo. Jumat, 8 April 2022. Pemerintah Jepang mengatakan akan mengusir delapan diplomat Rusia atas invasi negara mereka ke Ukraina. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Hikariko Ono mengumumkan keputusan tersebut pada Jumat, 8 April 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Pemerintah Jepang mengusir delapan diplomat Rusia dari negara tersebut, Jumat (8/4/2022). Langkah itu dilakukan sebagai bentuk protes Jepang atas agresi Rusia ke Ukraina yang turut menewaskan warga sipil.

Menurut seorang pejabat di Kementerian Luar Negeri Jepang, beberapa pejabat perdagangan Rusia termasuk di antara diplomat yang diusir. Namun Duta Besar Rusia untuk Jepang Mikhail Galuzin tak termasuk di antara mereka.

Baca Juga

Menurut beberapa pejabat Jepang, pengusiran diplomat asing sangat jarang terjadi. Namun kasus semacam itu pernah beberapa kali terjadi pada era Uni Soviet. Selain mengusir delapan diplomat, Jepang, pada Jumat, juga mengumumkan akan memberlakukan larangan impor batu bara Rusia.

“Kami akan melarang impor batu bara Rusia. Kami akan mengamankan alternatif dan dengan mengurangi impor secara bertahap, kami akan mengurangi ketergantungan kami pada energi Rusia,” kata Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida.

Pengumuman Jepang muncul beberapa hari setelah Komisi Eropa mengusulkan sanksi baru terhadap Rusia, termasuk larangan impor batu bara dari negara tersebut. “Empat paket sanksi telah memukul keras dan membatasi pilihan politik serta ekonomi Kremlin. Mengingat peristiwa, kami perlu meningkatkan tekanan kami lebih lanjut,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Selasa (5/4/2022) lalu.

Peristiwa yang dimaksud von der Leyen adalah dugaan pembunuhan massal yang dilakukan pasukan Rusia terhadap warga sipil di Bucha, Ukraina. “Kita semua melihat gambar-gambar mengerikan ini dari Bucha dan daerah lain ketika pasukan Rusia baru-baru ini pergi. Kekejaman ini tidak dapat dan tidak akan dibiarkan tanpa jawaban,” ucapnya.

Rusia telah membantah pasukannya membunuh atau bahkan membantai warga sipil di Bucha. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, rekaman video yang menunjukkan mayat warga sipil bergeletakan di kota Bucha pasca pasukan Rusia mundur dari daerah itu merupakan “serangan berita palsu”. Menurut Lavrov “pementasan” tersebut bertujuan meningkatkan sentimen anti-Rusia.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement