Rabu 27 Apr 2022 19:25 WIB

Separuh Populasi AS Terinfeksi Covid-19

Lebih dari separuh populasi AS telah terinfeksi Covid-19 setidaknya satu kali

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendapatkan suntikan booster Covid-19 kedua pada Rabu (30/3/2022) di White House.  Studi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menunjukkan lebih dari separuh populasi Amerika Serikat (AS) telah terinfeksi Covid-19 setidaknya satu kali.
Foto: AP Photo/Patrick Semansky
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendapatkan suntikan booster Covid-19 kedua pada Rabu (30/3/2022) di White House. Studi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menunjukkan lebih dari separuh populasi Amerika Serikat (AS) telah terinfeksi Covid-19 setidaknya satu kali.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON --  Studi oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menunjukkan lebih dari separuh populasi Amerika Serikat (AS) telah terinfeksi Covid-19 setidaknya satu kali. Studi tersebut menawarkan pandangan rinci tentang dampak dari lonjakan kasus varian omicron di Amerika Serikat.

Menurut data nasional AS yang dirilis pada Selasa (26/4/2022), sekitar 58 persen dari total populasi AS dan lebih dari 75 persen anak-anak telah terinfeksi virus Corona sejak awal pandemi. Sebelum varian omicron menyerang pada Desember 2021, sepertiga populasi AS telah terinfeksi Covid-19.

Omicron mendorong infeksi di semua kelompok umur, termasuk anak-anak dan remaja yang memiliki tingkat infeksi tertinggi. Sementara kelompok usia di atas 65 tahun memiliki tingkat infeksi terendah.

Selama periode Desember hingga Februari, ketika kasus Omicron berkecamuk di Amerika Serikat, 75,2 persen anak-anak berusia 11 tahun ke bawah memiliki antibodi terkait infeksi Covid-19 dalam darah mereka. Jumlah ini naik dari 44,2 perseb pada periode tiga bulan sebelumnya.

Kemudian sekitar 74,2 persen kelompok usia antara 12 tahun hingga 17 tahun memiliki antibodi yang terkait infeksi Covid-19. Jumlah tersebut naik dari 45,6 persen dari September hingga Desember. Para ilmuwan menyatakan, ada antibodi spesifik yang diproduksi sebagai respons terhadap virus korona. Antibodi ini muncuk setelah terinfeksi virus korona, dan tidak dihasilkan oleh vaksin Covid-19  Jumlah jejak antibodi ini tetap berada dalam darah selama dua tahun.

"Memiliki antibodi yang terbentuk dari infeksi (Covid-19), tidak selalu berarti Anda terlindungi dari infeksi di masa depan.  Kami tidak melihat apakah orang memiliki tingkat antibodi yang memberikan perlindungan terhadap infeksi ulang atau penyakit parah," kata rekan penulis studi tersebut dari CDC, Kristie Clarke.

Direktur CDC, Rochelle Walensky, mengatakan, kasus infeksi Covid-19 naik 22,7 persen dalam seminggu terakhir menjadi 44 ribu per hari. Sementara kasus rawat inap naik untuk minggu kedua berturut-turut, menjadi 6,6 persen. Sebagian besar kenaikan didorong oleh subvarian omicron.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement