Kamis 28 Apr 2022 11:16 WIB

Petani Gaza Temukan Patung Dewi Kanaan Berusia 4.500 tahun

Patung Dewi Kanan yang ditemukan di Gaza berasal dari batu kapur

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nashih Nashrullah
Patung Dewi Kanan yang ditemukan di Gaza Palestina berasal dari batu kapur
Foto: Wafa
Patung Dewi Kanan yang ditemukan di Gaza Palestina berasal dari batu kapur

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM— Seorang petani Palestina di kota Khan Younis, Jalur Gaza menemukan kepala sebuah patung kuno yang diidentifikasi oleh otoritas arkeologi Palestina sebagai Dewi Kanaan. Patung itu berasal dari sekitar 2500 SM atau telah berusia 4.500 tahun.

Menurut kantor berita otoritas Palestina WAFA awal pekan ini, kepala patung batu berukuran tinggi 22 cm dan diukir dari batu kapur. Namun tubuh patung itu hilang. Kepala di atasnya dengan mahkota ular merupakan simbol kekuatan dan tak terkalahkan yang digunakan oleh para dewa Kanaan.

Baca Juga

WAFA mengatakan patung itu mewakili dewi Kanaan, Anah, dewi cinta, kecantikan, dan juga perang menurut mitologi Kanaan. Dewi ini juga dikenal dengan nama Anat, Anatu, Antit dan Anath di antara nama-nama lainnya. Dia adalah dewi Semit utama yang disembah dalam berbagai inkarnasi. 

Dia juga disembah di Mesir dan di Ugarit, sebuah kota pelabuhan kuno di Suriah utara, serta di Siprus dan Mesopotamia. Sebuah catatan papirus dari Elephantine, Mesir, Aswan modern, menyebutkan seorang dewi bernama Anat-Yahu yang disembah di kuil yang didedikasikan untuk Yahweh. 

Kuil ini dibangun oleh para pengungsi Yahudi dari penaklukan Yehuda oleh Babilonia. Di sana, dia bahkan digambarkan sebagai istri atau permaisuri Yahweh. Dia juga dianggap sebagai pendahulu dari dewi Yunani Athena, sebagai gadis prajurit ilahi. 

Profesor arkeologi Universitas Bar Ilan Aren Maeir mencatat bahwa wajah patung itu tidak seperti yang pernah dilihatnya, sehingga sulit untuk memverifikasi asal-usul atau usianya meskipun pernyataan yang dikutip dalam pers dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala Hamas mengidentifikasinya sebagai orang Kanaan. 

"Saya tidak mengenali patung itu sebagai apa pun yang pernah saya lihat sebelumnya. Saya tidak mengenalinya jadi saya tidak tahu apa itu. Sulit untuk mengatakan dari periode berapa," katanya dikutip laman Jerusalem Post, Rabu (27/4/2022).

Jamal Abu Rida dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala yang dikelola Hamas mengatakan patung itu tahan terhadap waktu dan telah diperiksa dengan cermat oleh para ahli. Dia mengatakan bahwa penelitian telah membuat poin.

"Penemuan semacam itu membuktikan bahwa Palestina memiliki peradaban dan sejarah, dan tidak ada yang bisa menyangkal atau memalsukan sejarah ini," katanya dikutip BBC. "Ini adalah orang-orang Palestina dan peradaban Kanaan kuno mereka." 

Tidak semua temuan arkeologis di Gaza sangat dihargai atau diperlakukan dengan sangat baik. Hamas sebelumnya telah dituduh menghancurkan sisa-sisa kota besar Kanaan yang dibentengi, Tell al-Sakan, untuk membuka jalan bagi perumahan dan pangkalan militer di selatan Kota Gaza yang berpenduduk padat. 

Sebuah perunggu kuno seukuran manusia dari dewa Yunani Apollo ditemukan oleh seorang nelayan pada 2013, tetapi kemudian menghilang secara misterius. Namun, tahun ini Hamas membuka kembali sisa-sisa gereja Bizantium abad ke-5 setelah donor asing membantu membayar proyek restorasi selama bertahun-tahun. 

Pekerjaan juga berhenti di lokasi pembangunan di Gaza utara ketika 31 makam era Romawi ditemukan di sana. Sementara situs kuno seperti itu berpotensi menjadi daya tarik bagi pengunjung asing, hampir tidak ada industri pariwisata. Israel dan Mesir dengan ketat membatasi arus orang masuk dan keluar dari daerah kantong pantai yang miskin, yang merupakan rumah bagi sekitar 2,3 juta warga Palestina dengan alasan masalah keamanan. 

 

Sumber: wafa, bbc

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement