Sabtu 04 Jun 2022 19:09 WIB

Joe Biden Direncanakan Kunjungi Arab Saudi dan Israel, Bahas Normalisasi Kedua Negara?

Joe Biden disebut membawa misi stabilitas di kawasan Timur Tengah

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nashih Nashrullah
 Presiden Joe Biden, diagendakan akan lakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi dan Israel.
Foto: AP/Susan Walsh
Presiden Joe Biden, diagendakan akan lakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi dan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengungkapkan, ada kemungkinan dia melakukan kunjungan ke Israel, Arab Saudi, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya akhir bulan ini. Jika terlaksana, Biden mengemban misi membawa lebih banyak stabilitas di kawasan tersebut.   

Biden mengatakan, saat ini belum ada agenda tegas baginya mengunjungi Saudi. Tapi kemungkinan kunjungan ke negara tersebut tak dikesampingkan. 

Baca Juga

“Saya telah terlibat dalam upaya untuk bekerja dengan bagaimana kami dapat membawa lebih banyak stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah. Ada kemungkinan bahwa saya akan bertemu dengan Israel dan beberapa negara Arab pada saat itu, termasuk, yang saya harapkan adalah Arab Saudi,” ucapnya kepada awak media di Gedung Putih, Jumat (3/6/2022), dikutip Anadolu Agency. 

Pernyataan Biden tentang rencana kunjungannya ke Timur Tengah muncul tak lama setelah Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid mengatakan bahwa negaranya sedang menjalin diskusi dengan Amerika Serikat tentang bagaimana Tel Aviv bisa melakukan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi. 

Lapid mengatakan, negaranya yakin normalisasi relasi diplomatik dengan Saudi mungkin dilakukan. Namun dia mengakui hal itu akan menjadi proses yang panjang dan hati-hati. 

“Kami percaya ada kemungkinan untuk melakukan proses normalisasi dengan Arab Saudi, Ini kepentingan kami. Kami sudah mengatakan bahwa ini adalah langkah selanjutnya setelah Abraham Accords (kesepakatan normalisasi Israel dengan beberapa negara Muslim), untuk berbicara tentang proses yang panjang dan hati-hati,” kata Lapid, Senin (30/5/2022) lalu, dilaporkan Times of Israel

Dia menyebut, jika kesepakatan normalisasi dengan Saudi tercapai, hal itu tidak akan menjadi sesuatu yang mengejutkan. Berbeda ketika Israel mengumumkan normalisasi diplomatik dengan Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) pada 2020 lalu. "Ini tidak akan terjadi dengan cara yang sama seperti terakhir kali. Kami tidak akan bangun di suatu pagi tiba-tiba dan itu akan menjadi kejutan," ucapnya. 

Lapid mengklaim saat ini upaya normalisasi dengan Saudi tengah didiskusikan Israel bersama Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Teluk Arab. “Kami sedang mengerjakannya dengan Amerika (tentang normalisasi hubungan dengan Saudi), dengan beberapa negara Teluk, dalam segala macam cara,” ujarnya. 

Pada 15 September 2020, Bahrain dan Uni Emirat Arab menandatangani perjanjian normalisasi diplomatik dengan Israel. Hal itu tercapai berkat mediasi dan dukungan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan mantan presiden Donald Trump. Kesepakatan normalisasi tersebut dikenal dengan nama Abraham Accords. 

Selain Uni Emirat Arab dan Bahrain, Amerika Serikat pun membantu Israel melakukan normalisasi diplomatik dengan Sudan serta Maroko.

Washington menghapus Sudan dari daftar negara pendukung terorisme sebagai aksi timbal balik atas kesediaannya membuka hubungan resmi dengan Tel Aviv. Kemudian terkait Maroko, sebagai balasan, Amerika Serikat mengakui klaim negara tersebut atas wilayah Sahara Barat yang dipersengketakan. 

Palestina mengecam kesepakatan damai yang dilakukan empat negara Muslim tersebut. Menurut Palestina, apa yang dilakukan keempat negara terkait merupakan “tikaman” bagi perjuangannya memperoleh kemerdekaan.     

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement