Kamis 09 Jun 2022 19:31 WIB

Pekerja Sektor Listrik Mogok, Listrik di Sri Lanka Terancam Padam

Pemerintah mendorong energi terbarukan sebagai solusi potensial untuk masalah listrik

Rep: ferginadirabach/ Red: Hiru Muhammad
Tentara Sri Lanka mengamankan lingkungan kediaman pribadi presiden Sri Lanka selama protes di pinggiran Kolombo, Sri Lanka, Jumat, 1 April 2022. Sri Lanka mematikan lampu jalan untuk menghemat listrik pada Kamis (31/3/2022).
Foto: AP Photo/Eranga Jayawardena
Tentara Sri Lanka mengamankan lingkungan kediaman pribadi presiden Sri Lanka selama protes di pinggiran Kolombo, Sri Lanka, Jumat, 1 April 2022. Sri Lanka mematikan lampu jalan untuk menghemat listrik pada Kamis (31/3/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO--Sejumlah wilayah di Sri Lanka dilanda pemadaman listrik setelah serikat pekerja sektor listrik melakukan aksi pemogokan menentang peraturan baru pemerintah, Rabu (8/6/2022) waktu setempat. Aksi ini mengancam pemadaman listrik seluruh negeri yang kini berada dalam cengkraman krisis ekonomi.

Sekitar 900 dari sekitar 1.100 insinyur di Ceylon Electricity Board (CEB), perusahaan listrik utama Sri Lanka yang dikelola negara melakukan aksi mogok kerja pada tengah malam Rabu. Mereka menghentikan operasi di delapan pembangkit listrik tenaga air yang menghasilkan sekitar 1.000 MW listrik.

Baca Juga

22 juta orang Sri Lanka sudah menderita gejolak keuangan paling serius di negara itu dalam tujuh dekade. Warga mengalami kekurangan bahan bakar, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya di tengah rekor inflasi dan devaluasi mata uangnya.

Dalam upaya untuk menghentikan pemogokan Serikat Insinyur CEB, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa mengeluarkan pemberitahuan pada Rabu malam yang menyatakan pasokan listrik sebagai layanan penting. Arahan hukum mewajibkan para insinyur untuk melapor ke tempat kerja.

"Presiden Rajapaksa menelepon presiden serikat tadi malam dan mengajukan permohonan untuk tidak membiarkan seluruh jaringan runtuh. Jadi kami bekerja untuk memastikan rumah sakit dan layanan penting lainnya memiliki kekuatan," kata sekretaris gabungan serikat pekerja Eranga Kudahew.

"Tapi pemogokan akan terus berlanjut," imbuhnya. Serikat pekerja menentang rencana pemerintah untuk mengamandemen undang-undang yang mengatur sektor listrik negara yang mencakup penghapusan pembatasan pada penawaran kompetitif untuk proyek-proyek pembangkit listrik terbarukan.

Namun pemerintah, yang mendorong energi terbarukan sebagai solusi potensial untuk masalah listrik negara, telah menggarisbawahi perlunya amandemen untuk memungkinkan persetujuan dan implementasi proyek yang lebih cepat. Ketua regulator listrik Komisi Utilitas Publik Sri Lanka, Janaka Ratnayake mengatakan daerah yang disuplai oleh tenaga air telah mengalami pemadaman listrik, termasuk bagian dari ibu kota komersial Kolombo. "Kami bekerja untuk memulihkan layanan dan akan berbicara dengan serikat pekerja untuk mengurangi ketidaknyamanan publik," kata Ratnayake kepada Reuters.

Sri Lanka dilumpuhkan oleh pemadaman listrik yang lama awal tahun ini setelah tidak dapat mengimpor bahan bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. Meskipun situasinya telah membaik karena hujan telah mendukung pembangkit listrik tenaga air.

 

 

 

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement