Senin 13 Jun 2022 21:36 WIB

China Pembeli Terbesar Energi Rusia Sejak Invasi Ukraina

China telah membeli bahan energi dari Rusia senilai sekitar 12,6 miliar euro

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah
 Kilang minyak TotalEnergies Leuna dekat Spergau, Jerman Timur, 25 April 2022. Akibat invasi Rusia ke Ukraina, Uni Eropa sedang mempersiapkan rencana embargo minyak Rusia.
Foto: EPA-EFE/FILIP SINGER
Kilang minyak TotalEnergies Leuna dekat Spergau, Jerman Timur, 25 April 2022. Akibat invasi Rusia ke Ukraina, Uni Eropa sedang mempersiapkan rencana embargo minyak Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- China telah mengambil alih Jerman sebagai pembeli terbesar ekspor energi Rusia sejak dimulainya perang di Ukraina. Laporan ini dirilis oleh Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih pada Senin (13/6).

Kelompok yang berbasis di Helsinki ini mengatakan, Rusia menerima pendapatan sekitar 93 miliar euro untuk penjualan minyak, gas alam, dan batu bara sejak 24 Februari, ketika menginvasi Ukraina. Sekitar 61 persen dari bahan bakar fosil senilai sekitar 57 miliar euro diekspor ke Uni Eropa selama 100 hari pertama konflik.

Baca Juga

Jumlah tersebut termasuk ekspor senilai 12,1 miliar euro ke Jerman, masing-masing 7,8 miliar euro ke Italia dan Belanda. Sementara 4,4 miliar euro ke Polandia.

Jerman merupakan importir terbesar bahan bakar fosil Rusia selama dua bulan pertama perang. Posisi ini merosot ke posisi kedua di belakang China yang telah membeli energi senilai sekitar 12,6 miliar euro dari Rusia.

Pergeseran tersebut mencerminkan semakin pentingnya China dan ekonomi non-Eropa lainnya untuk ekspor energi Rusia, yang menyediakan sekitar 40 persen dari anggaran federal negara itu.

Angka-angka yang diterbitkan oleh organisasi tersebut menunjukkan bahwa Jerman tetap sangat bergantung pada energi Rusia, terutama gas alam. Impor pada Mei turun delapan persen dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya, bertepatan dengan cuaca yang lebih hangat.

Secara keseluruhan, Uni Eropa memangkas impor energi dari Rusia lebih dari 100 juta euro per hari pada Mei.  Dipimpin oleh Polandia, yang sebelumnya merupakan pembeli besar minyak dan gas Rusia. Sebaliknya, Prancis, Belgia dan Belanda mengambil lebih banyak gas alam dan minyak di pasar jangka pendek pada Mei.

Kelompok ini menyebutkan bahwa Rusia mengekspor lebih banyak minyak dengan kapal ke negara-negara yang tidak memiliki jaringan pipa, kapal tanker sangat diminati. Empat perlima dari kapal tanker itu dimiliki oleh perusahaan-perusahaan Eropa atau Amerika.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement