Selasa 21 Jun 2022 09:56 WIB

Impor Minyak China dari Rusia Melonjak di Tengah Sanksi Barat

Impor mencapai rekor tertinggi dan menggusur Arab Saudi sebagai pemasok utama China.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Data bea cukai China pada Senin (20/6/2022) menunjukkan bahwa, impor minyak mentah dari Rusia melonjak 55 persen pada Mei, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Foto: AP/Olivia Zhang
Data bea cukai China pada Senin (20/6/2022) menunjukkan bahwa, impor minyak mentah dari Rusia melonjak 55 persen pada Mei, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Data bea cukai China pada Senin (20/6/2022) menunjukkan bahwa, impor minyak mentah dari Rusia melonjak 55 persen pada Mei, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Impor ini mencapai tingkat rekor tertinggi dan menggusur Arab Saudi sebagai pemasok utama China. 

Peningkatan impor minyak ke China membantu mengimbangi kerugian Moskow dari sanksi negara-negara Barat yang mengurangi pembelian energi Rusia atas invasinya ke Ukraina. Berdasarkan data dari Administrasi Umum Bea Cukai, China mengimpor sekitar 8,42 juta ton minyak dari Rusia bulan lalu. Pada periode yang sama China mengimpor 7,82 juta ton minyak dari Arab Saudi. Impor minyak Rusia termasuk pasokan yang dipompa melalui pipa Samudra Pasifik Siberia Timur, dan pengiriman melalui laut dari pelabuhan Eropa dan Timur Jauh Rusia.

Baca Juga

Data menunjukkan bahwa Rusia kembali menempati peringkat teratas sebagai pemasok ke importir minyak mentah terbesar dunia setelah jeda 19 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa, Moskow dapat menemukan pembeli untuk minyaknya meskipun ada sanksi Barat, dan harus memangkas harga. 

Menurut Bloomberg, China membeli produk energi Rusia senilai 7,47 miliar dolar AS pada Mei. Jumlah pembelian ini meningkar sekitar 1 miliar dolar AS dari April. Data bea cukai China yang baru muncul empat bulan setelah perang di Ukraina. Karena pembeli dari Amerika Serikat dan Eropa menghindari impor energi Rusia atau telah berjanji untuk memangkasnya selama beberapa bulan mendatang. Analis mengatakan permintaan Asia membantu menahan sebagian kerugian bagi Rusia, terutama pembeli dari China dan India.

"Untuk saat ini, hanya murni ekonomi bahwa penyulingan India dan China mengimpor lebih banyak minyak mentah asal Rusia karena harga minyaknya murah," kata analis Wei Cheong Ho, dilansir Aljazirah, Selasa (21/6/2022).

Menurut data dari perusahaan riset Rystad Energy, India membeli enam kali lebih banyak minyak Rusia dari Maret hingga Mei dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara impor oleh China selama periode itu naik tiga kali lipat.

Menurut laporan minyak global terbaru dari Badan Energi Internasional, India telah menyusul Jerman dalam dua bulan terakhir sebagai importir minyak mentah Rusia terbesar kedua. Secara terpisah, data juga menunjukkan impor Cina untuk gas alam cair (LNG) Rusia berjumlah hampir 400 ribu ton bulan lalu, atau 56 persen lebih tinggi dari Mei 2021.

Selama lima bulan pertama tahun ini, impor LNG Rusia naik 22 persen pada tahun ini menjadi 1,84 juta ton. Sebagian besar LNG berasal dari proyek Sakhalin-2 di Timur Jauh dan LNG Yamal di Kutub Utara Rusia.

China telah menjadi pasar minyak mentah terbesar Rusia sejak 2016 dan belum secara terbuka mengutuk perang Moskow di Ukraina. Sebaliknya, China telah memperoleh keuntungan ekonomi dari tetangganya yang terisolasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement