Senin 04 Jul 2022 17:19 WIB

Putin tak akan Ucapkan Selamat Hari Kemerdekaan pada Biden Tahun Ini

Keputusan ini diambil karena tindakan tidak bersahabat AS terhadap Rusia.

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha
Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri konferensi pers bersama dengan Presiden Indonesia Joko Widodo setelah pertemuan mereka di Kremlin di Moskow, Rusia, Kamis, 30 Juni 2022. Putin tidak akan mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan pada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden.
Foto: AP/Alexander Zemlianichenko
Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri konferensi pers bersama dengan Presiden Indonesia Joko Widodo setelah pertemuan mereka di Kremlin di Moskow, Rusia, Kamis, 30 Juni 2022. Putin tidak akan mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan pada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan pada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Kremlin mengatakan, keputusan ini diambil karena tindakan "tidak bersahabat" terhadap Moskow.

"Ucapan selamat pada tahun ini hampir tidak dapat dianggap tepat ," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada konferensi pers dalam sambungan telepon, Senin (4/7/2022).

Baca Juga

"Kebijakan tidak bersahabat Amerika Serikat yang menjadi alasannya," tambah Peskov.

Sementara itu Indonesia menilai hanya Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang diterima Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam waktu berdekatan. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto yang menambahkan hal ini menandakan kedua kepala negara menerima kehadiran Jokowi.

"Tidak ada pemimpin Negara yang diterima kedua belah pihak dalam waktu dekat. Ini hanya Bapak Presiden dan itu Pak Jokowi, jadi menunjukkan kedua pemimpin yang sedang bertikai itu menerima kehadiran Bapak Jokowi," kata Airlangga.

Ia menillai Jokowi diterima baik oleh Putin, dan Zelenskyy, di saat kedua negara masih berstatus perang. Adapun lawatan Jokowi ke Ukraina dan Rusia mengutamakan isu ketersediaan dan rantai pasok pangan global agar ketahanan pangan dunia bisa terjaga.

Dalam turnya itu Jokowi berpesan agar ekspor gandum dari Ukraina, serta ekspor komoditas pangan dan pupuk dari Rusia bisa kembali aktif ke dalam rantai pasok global. "Itu jadi bagian dari proses perdamaian dan proses perdamaian kan sebuah proses yang berjalan terus, bukan instan, jadi ini merupakan awal yang baik," kata Airlangga.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, menyebutkan, Jokowi menjadi pemimpin pertama dari kawasan Asia yang mengunjungi Ukraina, sejak negara itu mulai menghadapi invasi Rusia pada Februari lalu. Lawatan Jokowi guna membawa misi damai.

"Yang perlu kita garis bawahi, Bapak Presiden (Jokowi) adalah satu-satunya pimpinan dari Asia yang bisa melakukan kunjungan ke dua tempat dalam satu rangkaian kunjungan, ke Ukraina dan ke Rusia. Sudah bertemu dengan Presiden Ukraina dan akan bertemu Presiden (Vladimir) Putin," kata Faizasyah.

sumber : Reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement