Jumat 29 Jul 2022 07:10 WIB

49 Orang Meninggal Tersambar Petir dalam Sepekan di India Utara

Orang di India lebih banyak meninggal karena petir daripada dampak hujan.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha
Seorang pria mengarungi jalan yang tergenang air saat hujan deras di Jammu, India, Kamis, 28 Juli 2022. Musim hujan di India berlangsung dari Juni hingga September.
Foto: AP Photo/Channi Anand
Seorang pria mengarungi jalan yang tergenang air saat hujan deras di Jammu, India, Kamis, 28 Juli 2022. Musim hujan di India berlangsung dari Juni hingga September.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Polisi India melaporkan pada Kamis (28/7/2022), tujuh orang yang sebagian besar petani meninggal dunia akibat tersambar petir di sebuah desa di negara bagian Uttar Pradesh. Jumlah korban meninggal akibat tersambar petir menjadi 49 orang di wilayah itu hanya dalam satu pekan saja.

Para petani telah berlindung di bawah pohon selama hujan muson ketika mereka disambar petir pada Selasa (26/7/2022), kemudian meninggal seketika. Petugas polisi Hem Raj Meena mengatakan, para korban termasuk empat anggota keluarga dan beberapa penggembala ternak di dekat kota Kaushambi. Musim muson India berlangsung dari Juni hingga September.

Baca Juga

Juru bicara pemerintah negara bagian di India bagian utara Shishir Singh menyatakan, jumlah korban meninggal yang tinggi telah mendorong pemerintah untuk mengeluarkan pedoman baru tentang cara melindungi diri selama badai petir. "Orang-orang lebih banyak meninggal karena petir daripada insiden terkait hujan, meskipun ini adalah saat ketika orang (biasanya) meninggal karena banjir atau insiden terkait hujan lainnya," ujarnya.

Penggerak organisasi “Lightning India Resilient Campaign" Kolonel Sanjay Srivastava mengatakan, petir telah menewaskan hampir 750 orang di seluruh India sejak April. Jumlah ini termasuk 20 orang yang meninggal di negara bagian Bihar timur dalam dua hari terakhir dan 16 di negara bagian Madhya Pradesh di India tengah awal bulan ini.

Direktur jenderal Pusat Sains dan Lingkungan Sunita Narain mengatakan, pemanasan global berperan dalam meningkatnya jumlah sambaran petir. Kenaikan suhu satu derajat Celcius meningkatkan petir 12 kali lipat.

Srivastava mengatakan, penggundulan hutan, penipisan badan air, dan polusi, semuanya berkontribusi terhadap perubahan iklim yang menyebabkan lebih banyak petir. Sedangkan Direktur Departemen Meteorologi India J P Gupta menyatakan, badai dan kilat telah meningkat tahun ini karena peningkatan tingkat polusi.

"Suhu tanah yang tinggi menyebabkan penguapan dari badan air yang menambah kelembapan ke atmosfer. Kehadiran aerosol akibat polusi udara menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi awan petir untuk memicu aktivitas petir," kata Gupta.

Lebih dari 200 orang meninggal dalam hujan lebat dan tanah longsor di negara bagian India termasuk Assam, Manipur, Tripura, dan Sikkim. Sementara 42 orang meninggal di Bangladesh sejak 17 Mei dengan ratusan ribu orang mengungsi di musim hujan. 

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement