REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Direktur Utama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Pasifik Barat Dr. Takeshi Kasai telah dinonaktifkan dari jabatannya tanpa batas waktu. Juru bicara WHO mengonfirmasi pada Selasa (30/8/2022), dia sedang melakukan cuti.
"Direktur Regional untuk Wilayah Pasifik Barat, Dr Takeshi Kasai, sedang cuti," kata seorang pejabat WHO dalam komentar melalui surel tanpa memberikan rincian.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kepada staf di Pasifik Barat dalam surel pada 26 Agustus, bahwa Kasai sedang cuti tanpa menjelaskan lebih lanjut. Tedros mengatakan, Wakil Direktur Jenderal Dr. Zsuzsanna Jakab akan tiba di Manila pada Selasa, kehadirannya untuk memastikan kelangsungan lembaga tersebut.
Sebanyak dua sumber WHO mengkonfirmasi kepada Reuters, keputusan untuk menempatkan dokter dari Jepang dalam cuti administratif terkait dengan penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap berbagai keluhan staf. Dia telah bekerja di badan tersebut selama lebih dari 15 tahun.
Pertama kalinya seorang direktur regional diberhentikan dari tugas. Kasai yang menjadi direktur regional WHO pada Februari 2019 sebelumnya mengakui telah bersikap keras pada staf. Meski begitu, dia menolak tuduhan lainnya yang diajukan kepadanya.
AP melaporkan pada awal Januari, lebih dari 30 staf tak dikenal mengirim pengaduan rahasia kepada pimpinan senior WHO dan anggota Dewan Eksekutif organisasi. Mereka menuduh bahwa Kasai telah menciptakan atmosfer beracun di kantor WHO di Pasifik Barat.
Dokumen dan rekaman menunjukkan Kasai membuat pernyataan rasis kepada stafnya dan menyalahkan munculnya Covid-19 di beberapa negara Pasifik sebagai kurangnya kapasitas karena budaya, ras, dan tingkat sosial ekonomi mereka yang lebih rendah. Beberapa staf WHO yang bekerja di bawah Kasai mengatakan, dia membagikan informasi vaksin virus Corona yang sensitif untuk membantu Jepang, negara asalnya, mencetak poin politik dengan sumbangannya.
Penonaktifan Kasai sangat kontras dengan keengganan WHO di masa lalu untuk mendisiplinkan pelaku perilaku tidak etis dan terkadang ilegal. Salah satunya pelecehan seksual yang terungkap selama wabah Ebola di Kongo dari 2018-2020.
Lebih dari 80 responden wabah di bawah arahan WHO melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan yang rentan. Penyelidikan AP menemukan manajemen senior WHO diberitahu tentang beberapa klaim eksploitasi pada 2019 tetapi menolak untuk bertindak dan bahkan mempromosikan salah satu manajer yang terlibat. Tidak ada staf senior WHO yang terkait dengan pelecehan tersebut telah dipecat.