Ahad 11 Sep 2022 01:45 WIB

Sekjen PBB Kunjungi Daerah Banjir Parah di Pakistan

Sekjen PBB mengatakan Pakistan membutuhkan dukungan keuangan besar-besaran

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Orang-orang menyeberangi sungai di atas buaian yang ditangguhkan, di kota Bahrain, Pakistan, Selasa, 30 Agustus 2022. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pakistan pada Selasa mengeluarkan seruan sebesar $160 juta dalam bentuk dana darurat untuk membantu jutaan orang yang terkena dampak banjir yang memecahkan rekor itu. telah membunuh lebih dari 1.150 orang sejak pertengahan Juni.
Foto: AP/Naveed Ali
Orang-orang menyeberangi sungai di atas buaian yang ditangguhkan, di kota Bahrain, Pakistan, Selasa, 30 Agustus 2022. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pakistan pada Selasa mengeluarkan seruan sebesar $160 juta dalam bentuk dana darurat untuk membantu jutaan orang yang terkena dampak banjir yang memecahkan rekor itu. telah membunuh lebih dari 1.150 orang sejak pertengahan Juni.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengunjungi beberapa daerah di Pakistan yang dilanda banjir  pada Sabtu (10/9/2022). Dia mengakhiri perjalanan dua hari di negara itu dalam kunjungan untuk meningkatkan kesadaran akan bencana tersebut.

Guterres mendarat di provinsi Sindh sebelum terbang di atas beberapa daerah yang terkena dampak paling parah dalam perjalanan ke Balochistan, provinsi lain yang terkena dampak. "Sulit untuk tidak merasa sangat tersentuh mendengar deskripsi tragedi yang begitu mendetail," kata Guterres setelah mendarat di Sindh melalui sebuah video yang dirilis oleh kantor Perdana Menteri Shehbaz Sharif.

"Pakistan membutuhkan dukungan keuangan besar-besaran. Ini bukan masalah kedermawanan, ini masalah keadilan," ujar  Sekretaris Jenderal PBB itu.

Sebuah video yang dirilis oleh Menteri Penerangan Pakistan Marriyum Aurangzeb menunjukkan Guterres duduk di sebelah Sharif melihat daerah yang rusak akibat banjir dari jendela pesawat. "Tidak terbayangkan," kata Guterres mengamati kerusakan.

Rekor hujan monsun dan pencairan gletser di pegunungan utara telah memicu banjir yang telah menewaskan lebih dari 1.391 orang, menyapu rumah, jalan, rel kereta api, jembatan, ternak, dan tanaman. Sebagian besar wilayah negara itu terendam air dan ratusan ribu orang terpaksa meninggalkan rumah.

Pemerintah mengatakan kehidupan hampir 33 juta orang telah terganggu akibat bencana itu. Pakistan memperkirakan kerusakannya mencapai 30 miliar dolar AS dan pemerintah serta Guterres menyalahkan banjir itu sebagai akibat dari perubahan iklim.

Guterres mengatakan, dunia perlu memahami dampak perubahan iklim di negara-negara berpenghasilan rendah. "Umat manusia telah mengobarkan perang terhadap alam dan alam menyerang balik," katanya.

Pada Juli dan Agustus, Pakistan mendapat curah hujan 391 mm atau hampir 190 persen lebih banyak dari rata-rata 30 tahun. Provinsi selatan Sindh telah mengalami 466 persen lebih banyak hujan daripada rata-rata.

"Alam menyerang balik di Sindh, tetapi bukan Sindh yang membuat emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim secara dramatis. Ada situasi yang sangat tidak adil relatif terhadap tingkat kehancuran," kata Guterres.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement