Kamis 06 Oct 2022 20:25 WIB

WHO: Kematian 66 Anak Gambia Berhubungan dengan Obat Batuk Produksi India

Kematian 66 anak Gambia berhubungan dengan obat sirup batuk yang dproduksi India.

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kematian puluhan anak di Gambia yang diakibatkan cedera ginjal akut mungkin berhubungan dengan sirup batuk dan flu yang diproduksi pabrik di India.
Foto: VOA
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kematian puluhan anak di Gambia yang diakibatkan cedera ginjal akut mungkin berhubungan dengan sirup batuk dan flu yang diproduksi pabrik di India.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kematian puluhan anak di Gambia yang diakibatkan cedera ginjal akut mungkin berhubungan dengan sirup batuk dan flu yang diproduksi pabrik di India. Temuan ini diumumkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Temuan ini diumumkan setelah tes terhadap beberapa sirup medis yang diduga menyebabkan kematian 66 anak di negara kecil Afrika Barat. Tedros mengatakan WHO menggelar penyelidikan bersama regulator India dan perusahaan yang memproduksi itu Maiden Pharmaceuticals Ltd.

Maiden Pharma menolak memberikan komentar sementara telepon dan pesan singkat ke Pengendalian Obat-obatan Umum India tidak dijawab. Kementerian Kesehatan India tidak merespon permintaan komentar.

Pada Rabu (5/10/2022) kemarin WHO mengeluarkan peringatan produk meminta regulator untuk menarik barang-barang Maiden Pharma dari pasar. Dalam peringatan itu WHO mengatakan produk-produk itu mungkin didistribusikan melalui pasar tak resmi tapi sejauh ini yang teridentifikasi hanya Gambia.

Peringatan itu mencakup empat produk: Promethazine Oral Solution, Kofexmalin Baby Cough Syrup, Makoff Baby Cough Syrup dan Magrip N Cold Syrup. WHO mengatakan laboratorium menemukan kandungan diethylene glycol dan ethylene glycol dalam jumlah yang "tak dapat diterima" yang dapat menjadi racun dan mengarah pada cedera ginjal akut.

Pada Juli pejabat medis Gambia mengeluarkan peringatan setelah puluhan anak mengalami masalah ginjal. Petugas medis melihat pola kematian-kematian ini: puluhan pasien yang berusia di bawah lima tahun sakit selama tiga sampai lima hari setelah meminum sirup parasetamol.

Direktur pelayanan kesehatan Gambia Mustapha Bittaye mengatakan masalah juga terdeteksi di sirup lain. Tapi kementeriannya sedang menunggu konfirmasinya.

Ia mengatakan dalam beberapa pekan terakhir angka kematian telah berkurang dan produk Maiden Pharmaceuticals sudah dilarang. Namun, katanya, hingga baru-baru beberapa sirup masih dijual di klinik dan rumah sakit swasta.

Badan Pengendalian Obat-obatan Gambia mengirimkan surat ke para pekerja medis untuk meminta mereka berhenti menjual produk yang masuk daftar larangan WHO.

Berdasarkan situsnya Maiden Pharmaceuticals manufaktur obat yang memiliki pabrik di India. Selain di India perusahaan itu juga menjual produknya ke Asia, Afrika dan Amerika Latin.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement