Senin 24 Oct 2022 13:04 WIB

Ekonomi China Pulih Lebih Cepat

Perekonomian China pulih lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Perekonomian China pulih lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan pada kuartal ketiga.
Foto: AP/Andy Wong
Perekonomian China pulih lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan pada kuartal ketiga.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Perekonomian China pulih lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan pada kuartal ketiga. Meski begitu, peraturan Covid-19, krisis properti yang semakin mendalam dan resiko resesi global akan menjadi tantangan bagi Beijing terus mendorong pemulihan pada tahun depan.

Data resmi Senin (24/10/2022) menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) perekonomian terbesar kedua di dunia itu naik  3,9 persen pada kuartal Juli sampai September year-on-year. Angka ini di atas perkiraan ekonom responden jajak pendapat Reuters yang sebesar 3,4 persen dan meningkat dari laju 0,4 persen pada kuartal kedua.

Data itu rencana awalnya dirilis pada 18 Oktober tapi tertunda karena Kongres Partai Komunis pekan lalu. Presiden Xi Jinping menegaskan masa jabatannya yang ketiga di kongres tersebut.

"Perekonomian China sangat kuat, potensial dan luwes," kata Xi pada wartawan Ahad (23/10/2022).

"Fondasi yang kokoh tidak berubah dan akan tetap dalam jalur yang positif dalam jangka panjang," tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi didukung sektor manufaktur yang datanya pada bulan September dirilis terpisah. Output industri China bulan lalu naik 6,3 persen dari tahun sebelumnya, melampaui perkiraan yang sebesar 4,5 persen dan 4,2 persen pada bulan Agustus.

Namun pada Senin ini saham China jatuh dan yuan melemah karena investor fokus pada anggota lembaga pemerintah yang baru yang penuh dengan loyalis Xi. Dikhawatirkan ia akan melipatkangandakan kebijakan berbasis ideologi yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

Meskipun mulai pulih tapi perekonomian China masih menghadapi berbagai masalah baik di dalam maupun luar negeri. Kebijakan nol-Covid-19 dan krisis sektor properti diperburuk tekanan eksternal dengan krisis Ukraina dan perlambatan perekonomian global karena kenaikan suku bunga demi menahan agar inflasi tidak semakin parah.

Jajak pendapat Reuters memprediksi pertumbuhan China pada tahun 2022 akan melambat menjadi 3,2 persen. Jauh di bawah target pemerintah yang sekitar 5,5 persen. Jika terbukti maka performa ekonomi China tahun ini terburuk dalam setengah abad terakhir.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement