Kamis 27 Oct 2022 15:01 WIB

TikTok Menang Gugatan Atas Tuduhan Kematian Gadis yang Ikut Blackout Challenge

TikTok tidak bertanggung jawab atas kematian gadis yang ikut Blackout Challenge

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Esthi Maharani
Logo aplikasi TikTok muncul di Tokyo pada 28 September 2020.
Foto: AP/Kiichiro Sato
Logo aplikasi TikTok muncul di Tokyo pada 28 September 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Seorang hakim memutuskan bahwa TikTok tidak bertanggung jawab atas kematian seorang gadis 10 tahun yang menonton video "Blackout Challenge" atau tantangan pingsan. Video tantangan tersebut mendorong orang melakukan aksi berbahaya yakni mencekik diri mereka sendiri atau menahan napas selama beberapa detik hingga pingsan.

Hakim Distrik AS Paul Diamond di Philadelphia mengatakan TikTok kebal dari gugatan di bawah bagian dari UU Kepatuhan Komunikasi federal  yang melindungi penerbit karya orang lain. Undang-undang federal melindungi platform berbagi video dari tanggung jawab atas kematian gadis berusia 10 tahun, Nylah Anderson, bahkan jika aplikasi perusahaan merekomendasikan video tersebut kepadanya.

The Blackout Challenge mendorong netizen untuk merekam diri mereka sendiri yang tersedak sampai pingsan. Versi tantangan telah diposting di berbagai platform dan disalahkan atas kematian banyak anak. Tuntutan kematian lainnya terhadap TikTok atas tantangan tersebut sedang tertunda di pengadilan federal di Oakland dan Los Angeles.

Anderson ditemukan tergantung di lemari rumahnya di Pennsylvania pada Desember 2021. Ibunya menggugat TikTok karena telah merekomendasikan video tersebut kepada gadis itu di For Your Page (FYP).

Dalam putusan delapan halaman pada Selasa lalu, Diamond mengatakan, bahwa jika aplikasi telah merekomendasikan video kepada gadis itu, TikTok tidak dapat dituntut. Mempromosikan video ke pengguna adalah persis aktivitas yang dilindungi dari kewajiban berdasarkan Bagian 230 dari Undang-Undang Kepatutan Komunikasi federal.

“Kebijaksanaan memberikan kekebalan semacam itu adalah sesuatu yang diambil dengan benar oleh Kongres, bukan pengadilan,” kata Diamond dikutip laman Al Arabiya, Kamis (27/10/2022).

Kongres menambahkan Bagian 230 ke undang-undang 1996 dalam upaya untuk melindungi penyedia konten online agar tidak terkubur di bawah gunungan litigasi berdasarkan konten yang diposting oleh pengguna di platform mereka. Seorang pengacara untuk Andersons mengatakan keluarga tidak setuju dengan interpretasi hakim dari Bagian 230.

"Undang-Undang Kesusilaan Komunikasi federal tidak pernah dimaksudkan untuk mengizinkan perusahaan media sosial mengirim konten berbahaya kepada anak-anak, dan keluarga Anderson akan terus mengadvokasi perlindungan anak-anak kita dari industri yang mengeksploitasi kaum muda atas nama keuntungan," kata sang pengacara Jeffrey Goodman.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement